Jumat, 29 April 2011

Saung Seneby

SAUNG SENEBY



Jaringan Rumah Makan (Kuliner) Tradisional Khas Indonesia




Visi

Membuka jaringan Rumah Makan Kuliner Khas Indonesia di Seluruh Dunia

10.000 Buah Gerai Saung Seneby di Seluruh Dunia


Misi

1. Makanan yang Bersih

2. Sehat

3. Enak

4. Nikmat

5. Terjangkau

6. Halal dan Khas Indonesia

Jumat, 04 Maret 2011

Greater East Priangan Project






Vision

Kawasan Ekonomi Khusus GREATER EAST PRIANGAN

Mission

Pengembangan Daerah Terpadu

Program

2010-2015


(Program Konsolidasi)

Creative Industry

2015-2020


(Program Pengajuan Kepada Pemerintah Pusat)

Creative Industry


2020-2025


(Peresmian Kawasa Ekonomi Khusus Greater East Periangan)

Creative Industry


2025-2030



Agro Industry

Creative Industry

2030-2035



Agro Industry

Creative Industry

2035-2040


Agro Industry

Pariwisata

Creative Industry

2040-2045


Pariwisata

Creative Industry

2045-2060

Total Ekspor Pertahun dari Kawasan ini

100 Trilyun Rupiah




Konsorsium:

CIPANGCIAMBARTAS=Cilacap, Pangandaran, Ciamis, Banjar, Tasik

1. Kabupaten Tasikmalaya

Selamat Datang di Situs Resmi Pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya


2. Kota Tasikmalaya

Situs Resmi Pemerintah Kota Tasikmalaya


3. Kabupaten Ciamis


Kabupaten Ciamis


4. Kota Banjar

Situs Resmi Pemerintah Kota Banjar - Jawa Barat



5. Kabupaten Pangandaran

Pangandaran: Home



6. Kabupaten Cilacap

Website resmi Pemerintah Kabupaten Cilacap




History

Priangan saat ini merupakan salah satu wilayah Propinsi Jawa Barat yang mencakup Kabupaten Cianjur, Bandung, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis, yang luasnya mencapai sekitar seperenam pulau Jawa (kurang lebih 21.524 km persegi). Bagian utara Priangan berbatasan dengan Karawang, Purwakarta, Subang dan Indramayu; sebelah selatan dengan Majalengka, Kuningan; dengan Jawa Tengah di sebelah timur dibatasi oleh sungai Citanduy; di barat berbatasan dengan Bogor dan Sukabumi, sedangkan di selatan berhadapan dengan Samudera Indonesia.

Relief tanah daerah Priangan dibentuk oleh dataran rendah, bukit-bukit dan rangkaian gunung: Gunung Gede, Gunung Ciremai (termasuk dalam wilayah administratif Majalengka, Kuningan, dan Ciamis), Gunung Kancana, Gunung Masigit (Cianjur), Gunung Salak (termasuk dalam wilayah administratif Bogor dan Sukabumi); Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Burangrang, Gunung Malabar, Gunung Bukit Tunggul (Bandung); Gunung Tampomas, Gunung Calancang, Gunung Cakra Buana (Sumedang); Gunung Guntur, Gunung Haruman, Gunung Talagabodas, Gunung Karacak, Gunung Galunggung (Garut); Gunung Cupu, Gunung Cula Badak, Gunung Bongkok (Tasikmalaya); Gunung Syawal (Ciamis). Dikelilingi oleh rangkaian pegunungan dan banyak sungai, Priangan adalah wilayah yang sangat subur.

Minggu, 27 Februari 2011

PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN Bag. III

Kawasan Agropolitan : Konsep Membangun Desa-Kota Berimbang

Writer : Ernan Rustiadi, Setia Hadi, Widhianto M.A. (eds)

Publish : 2006



Konsep Pengembangan agropolitan muncul dari permasalahan adanya ketimpangan pembangunan wilayah antara kota sebagai pusat kegiatan dan pertumbuhan ekonomi dengan wilayah perdesaan sebagai pusat kegiatan pertanian tertinggal.

Proses interaksi kedua wilayah selama ini secara fungsional ada dalam posisi saling memperlemah.

Wilayah perdesaan dengan kegiatan utama sektor primer, khususnya pertanian, mengalami produktivitas yang selalu menurun akibat beberapa permasalahan, disisi lain wilayah perkotaan sebagai tujuan pasar dan pusat pertumbuhan menerima beban berlebih sehingga memunculkan ketidaknyamanan akibat permasalahan-permasalahan sosial (konfik, kriminal dan penyakit) dan lingkungan (pencemaran dan buruknya sanitasi lingkungan permukiman).

Hubungan yang saling memperlemah ini secara agregat wilayah keseluruhan akan berdampak kepada penurunan produktivitas wilayah.


PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN DALAM RANGKA PENGEMBANGAN WILAYAH YANG BERBASIS RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL

Oleh : Ir. Ruchyat Deni Djakapermana, M.Eng

Kebijakan dan Strategi Pengembangan Agropolitan.

1. Kebijakan Pengembangan 

a. Kebijakan pengembangan kawasan agropolitan berorientasi pada kekuatan pasar (market driven), melalui pemberdayaan masyarakat yang tidak saja diarahkan pada upaya pengembangan usaha budidaya (on-farm) tetapi juga meliputi pengembangan agribisnis hulu (penyediaan sarana pertanian) dan agribisnis hilir (processing dan pemasaran) dan jasa-jasa pendukungnya.


b. Memberikan kemudahan melalui penyediaan prasarana dan sarana yang dapat mendukung pengembangan agribisnis dalam suatu kesisteman yang utuh dan menyeluruh, mulai dari subsistem budidaya (on-farm), subsistem agribisnis hulu, hilir, dan jasa penunjang.


c. Agar terjadi sinergi daya pengembangan tenaga kerja, komoditi yang akan dikembangkan hendaknya yang bersifat export base bukan row base, dengan demikian hendaknya konsep pengembangan kawasan agropolitan mencakup agrobisnis, agroprocessing dan agroindustri.

d. Diarahkan pada consumer oriented melalui sistem keterkaitan desa dan kota (urban-rural linkage).


2. Strategi Pengembangan 

a. Penyusunan master plan pengembangan kawasan agropolitan yang akan menjadi acuan masing-masing wilayah/ propinsi. Penyusunan dilakukan oleh Pemerintah Daerah dan masyarakat sehingga program yang disusun lebih akomodatif. Disusun dalam jangka panjang (10 tahun), jangka menengah (5 tahun) dan jangka pendek (1-3 tahun) yang bersifat rintisan dan dan stimultans. Dalam progran jangka pendek setidaknya terdapat out line plan, metriks kegiatan lintas sektor, penanggung jawab kegiatan dan rencana pembiayaan.

b. Penetapan Lokasi Agropolitan; kegiatannya dimulai dari usulan penetapan Kabupaten oleh Pemerintah Propinsi, untuk selanjutnya oleh Pemerintah Kabupaten mengusulkan kawasan agropolitan dengan terlebih dahulu melakukan Identifikasi Potensi dan Masalah untuk mengetahui kondisi dan potensi lokasi (komoditas unggulan), antara lain: Potensi SDA, SDM, Kelembagaan, Iklim Usaha, kondisi PSD, dan sebagainya, serta terkait dengan sistem permukiman nasional, propinsi, dan kabupaten.

c. Sosialisasi Program Agropolitan; dilakukan kepada seluruh stakeholder yang terkait dengan pengembangan program agropolitan baik di Pusat maupun di Daerah, sehingga pengembangan program agropolitan dapat lebih terpadu dan terintegrasi.

Program Pengembangan Kawasan Agropolitan 

a. Penyiapan Master Plan Kawasan Agropolitan
Termasuk didalamnya rencana-rencana prasarana dan sarana.

b. Dukukungan prasarana dan sarana Kimpraswil (PSK), dengan tahapan :

· Pada tahun 1 (pertama) dukungan PSK diarahkan pada kawasan-kawasan sentra produksi, terutama pemenuhan kebutuhan air baku, jalan usaha tani, dan pergudangan.

· Pada tahun ke 2 (kedua) dukungan PSK diprioritaskan untuk meningkatkan nilai tambah dan pemasaran termasuk sarana untuk menjaga kualitas serta pemasaran ke luar kawasan agropolitan.

· Pada tahun ke 3 (ketiga) dukungan PSK diprioritaskan untuk meningkatkan kualitas lingkungan perumahan dan permukiman.

c. Pendampingan Pelaksanaan Program; dalam pelaksanaan program agropolitan, masyarakat harus ditempatkan sebagai pelaku utama sedangkan pemerintah berperan memberikan fasilitasi dan pendampingan sehingga mendapatkan keberhasilan yang lebih optimal.

d. Pembiayaan Program Agropolitan; pada prinsipnya pembiayaan program agropolitan dilakukan oleh masyarakat, baik petani, pelaku penyedia agroinput, pelaku pengolah hasil, pelaku pemasaran dan pelaku penyedia jasa.

Fasilitasi pemerintah melalui dana stimultans untuk mendorong Pemda dan masyarakat diarahkan untuk membiayai prasarana dan sarana yang bersifat publik dan strategis.

Dukungan Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah 

A. Tahun Anggaran 2002

1. Bantuan teknik Penyusunan Rencana Teknis dan DED 7 kawasan di 7 Propinsi sebagai acuan pengembangan kawasan agropolitan.

2. Penyediaan dana stimulan untuk pengembangan prasarana dan sarana yang dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi di kawasan agropolitan.

3. Penyelenggaraan sosialisasi program-program pengembangan kawasan agropolitan mulai dari tingkat kawasan dan tingkat kabupaten (7 Propinsi Rintisan), dan sosialisasi program pengembangan kawasan agropolitan di Tingkat Nasional (29 Propinsi) bekerjasama dengan Departemen Pertanian.

4. Bantuan teknik Identifikasi dan Penyusunan Program Pengembangan Kawasan Agropolitan di 29 Propinsi, sebagai acuan di dalam pengembangan program pengembangan agropolitan Tahun Anggaran 2003.

B. Tahun Anggaran 2003

2. Penyiapan Pedoman Penyusunan Master Plan Pengembangan Kawasan Agropolitan. Mengingat pelaksanaannya penyusunan Master Plan akan dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah, untuk memfasilitasi kegiatan tersebut diperlukan adanya satu pedoman.

3. Sesuai dengan kesepakatan antara Departemen Pertanian dengan Dep. Kimpraswil, maka dihimbau untuk dapat mengembangkan Program Pengembangan Kawasan Agropolitan minimal 1 kawasan di setiap Propinsi.

4. Penyiapan dukungan sarana dan prasarana wilayah untuk kawasan agropolitan. Pelajaran (Lesson Learned) Pengembangan Kawasan Agropolitan Pacet, Cianjur Dalam tahun anggaran 2002, berdasarkan Kriteria Lokasi Kawasan Agropolitan yang ditetapkan dalam Pedoman Umum Pengembangan Kawasan Agropolitan dan Hasil Kaji Tindak Identifikasi Potensi dan Masalah, maka Departemen Pertanian dan Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah bersama instansi terkait lainnya di tingkat pusat, propinsi, dan kabupaten, menetapkan salah satu kawasan agropolitan yang dikembangkan yaitu kawasan agropolitan Pacet, Cianjur.

Berdasarkan pengembangan kawasan agropolitan ini, terdapat beberapa hal yang cukup menarik untuk dicermati dan menjadi tantangan untuk pengembangan kawasan agropolitan berikutnya, yaitu:


1. Berkembangnya proses pencaloan/ ijon, telah mengakibatkan produk pertanian dikuasai oleh pengijon dan dijual langsung ke pasar yang lebih luas tanpa melalui pusat kawasan agropolitan. Bila praktek ini terus terjadi, maka proses pengembangan kawasan agropolitan sebagai satu kesatuan kawasan antara pusat agropolitan dan pusat produksi akan sulit diwujudkan dan nilai tambah yang diharapkan tidak akan terjadi di kawasan.

2. Tingkat produktifitas petani yang cenderung subsisten dan sulit untuk meningkatkan produktifitasnya akan sangat berpengaruh terhadap pengembangan agroindustri yang membutuhkan dukungan sediaan produk pertanian dalam jumlah besar dan konstan. Perlu adanya pelatihan yang terus menerus sehingga budaya yang bersifat subsisten tersebut dapat dirubah.

3. Meskipun ruas-ruas jalan yang ada di kawasan agropolitan Pacet-Cianjur telah mampu menghubungkan antar desa-desa di kawasan agropolitan maupun ke pusat kawasan agropolitan di Cipanas, akan tetapi kondisinya masih banyak yang rusak terutama pada jalan poros desa dan jalan antar desa (lihat gambar 4).

4. Fasilitas ekonomi seperti pasar setempat, pasar kaget, dan pasar induk harian (di Cipanas) belum memadai dan mencukupi untuk kebutuhan pemasaran hasil panen (lihat gambar 5).

5. Dibutuhkan penjadwalan waktu dan kelembagaan yang terintegrasi. Baik jadwal pemrograman, DED, penyiapan masyarakat, implementasi fisik lapangan, dan kelembagaan wewenang dan penanggung jawab mulai dari institusi pusat sampai dengan desa serta mencakup stakeholder yang terkait baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat.


Penutup 

Pembangunan kawasan perdesaan tidak bisa dipungkiri merupakan hal yang mutlak dibutuhkan. Hal ini didasari bukan hanya karena terdapatnya ketimpangan antara kawasan perdesaan dengan perkotaan akan tetapi juga mengingat tingginya potensi di kawasan perdesaan yang sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai alat untuk mendorong pembangunan. Pengembangan kawasan agropolitan menjadi sangat penting dalam kontek pengembangan wilayah mengingat : 

1. Kawasan dan sektor yang dikembangkan sesuai dengan keunikan lokal. 

2. Pengembangan kawasan agropolitan dapat meningkatkan pemerataan mengingat sektor yang dipilih merupakan basis aktifitas masyarakat. 

3. Keberlanjutan dari pengembangan kawasan dan sektor menjadi lebih pasti mengingat sektor yang dipilih mempunyai keunggulan kompetitif dan komparatif dibandingkan dengan sektor lainnya. 

Hal yang perlu digaris bawahi adalah pengembangan kawasan agropolitan tidak bisa terlepas dari Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) sebagai matra spasial nasional yang disepakati bersama. Berdasarkan hal tersebut, pengembangan kawasan agropolitan tetap harus mengacu kepada pengembangan kawasan andalan/ terkait dengan pengembangan kawasan andalan. Dengan adanya sinkronisasi tersebut, pembangunan nasional yang serasi, seimbang dan terpadu dapat diwujudkan.



Lihat Juga Pengolahan Hasil Pertanian

Potensi Pengolahan Minyak Atsiri di Pedesaan


Dikirim 07 Juli 2010 by administrator


Jakarta, Juli 2010 - Pengembangan pengolahan minyak atsiri di pedesaan merupakan langkah strategis dalam memacu pertumbuhan perekonomian daerah, selain dapat meningkatkan kesempatan kerja, meningkatkan nilai tambah dan daya saing, serta pendapatan petani tanaman penghasil minyak atsiri. Selengkapnya


Co-Benefits atau “keuntungan-bersama” didefinisikan sebagai upaya terintegrasi untuk menangani perubahan iklim yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan pada negara-negara berkembang. Hal ini mengingat pembangunan ekonomi dan sosial merupakan prioritas negara-negara berkembang disamping tuntutan untuk dapat berkontribusi pada pengelolaan lingkungan global. Selengkapnya

Kementerian Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia bekerjasama dengan Pusat Kerjasama Luar Negeri (Overseas Environmental Cooperation Center–OECC) dan Japan International Cooperation Agency (JICA) menyelengarakan Workshop Pendekatan Keuntungan Bersama (Co-Benefits Approach) Dalam Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia dengan Tema: ”Development Strategies on Climate Change:... Selengkapnya

Bimbingan Teknis / Pengawalan Pengolahan Hasil Pertanian


Dikirim 19 Juni 2009 by Admin Pengolahan Hasil Pertanian

Berkaitan dengan pelaksanaan Tugas Pembantuan kegiatan Pengembangan Agroindustri Kelapa Terpadu dan Pengolahan Tepung-tepungan, Direktorat Pengolahan Hasil Pertanian, Ditjen PPHP mengadakan Bimbingan Teknis Pembinaan dan Pengawalan Pengolahan Hasil Pertanian. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 24 dan 25 Maret 2009 di Jakarta. Selengkapnya


Master Plan Pembangunan dan Pengembangan Kawasan:
Pertanian, Perkebunan, Perikanan dan Peternakan [4P]

1. Daerah Penghasil Beras dan Sumber Karbohidrat 1 Juta Ton/Tahun.
2. Indsutri Pengolahan Hasil Kebun Modern.
3. Penghasil Perikanan Laut, hasil laut dan Darat 500.000 Ton/Tahun
4. Penghasil 1 Juta Domba 100 Juta Ekor Unggas/Telur per tahun.

 
Kawasan Pertanian Padi di Desa Bangunharja, Cisaga. Ciamis


Ucapan Terima Kasih Kepada: 

Dr. Ir. Soenarno, Dipl.HE.

Mantan Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah (Menkimpraswil)

Pendidikan:

1. Fakultas Tehnik Sipil Universitas Gajah Mada Yogyakarta. September 1962.

2. IHE Delft (Sp.I) International Institute for Hydraulic and Environmental Engineering Delft, The Netherlands September 1977.

3. Doctorate Degree Program in Civil Engineering Columbia Pacific University, San Rafael, California, USA Nopember 1982.

To all my friend

Kepala Divisi Agropolitan Project:

Achmad Yozar P. [UNSOED]

1. Riki (Civil Engineering, Universitas Indonesia)

2. Widia P. M. (Civil Engineering, UNIGA)

3. Erwin P. L. (Civil Engineering, UNIGAL)

4. Fadly F. (Civil Engineering, UMY)

5. Gilang G. N. K. (Civil Engineering. WIDIATAMA)

6. Deni Nugraha (Kota Banjar)

7. Ismail M. S (Pertanian UNSOED)

Referensi:

1. Douglas, Michael, Regional Networks Development, UNHCS-Bappenas, 1986

2. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Profil Kawasan DPP dan Agropolitan, 2002.

3. Direktorat Jenderal Perkotaan dan Perdesaan, Bantuan teknik Penyusunan Rencana Teknis dan DED 7 kawasan di 7 Propinsi, 2002

4. Porter, Michael, The Competitive Advantage of Nations, Cambridge, 1998.

5. Soenarno, Pengembangan Kawasan Agropolitan Dalam Rangka Pengembangan Wilayah, 2003.

6. UU NO 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang Nasional, Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional (BKTRN), 1992.

7. Yudhohusodo, Siswono, Laporan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia, 2002 Semoga bermanfaat dan Terima Kasih

PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN II

PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN
Arip Nurahman

PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN DALAM RANGKA PENGEMBANGAN WILAYAH YANG BERBASIS RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL

Oleh :

Ir. Ruchyat Deni Djakapermana, M.Eng


Secara lebih luas, pengembangan kawasan agropolitan diharapkan dapat mendukung terjadinya sistem kota-kota yang terintegrasi. Hal ini ditunjukkan dengan keterkaitan antar kota dalam bentuk pergerakan barang, modal, dan manusia. Melalui dukungan sistem infrastruktur transportasi yang memadai, keterkaitan antar kawasan agropolitan dan pasar dapat dilaksanakan. Dengan demikian, perkembangan kota yang serasi, seimbang, dan terintegrasi dapat terwujud:
(lihat gambar 2).
Konsep

Dalam rangka pengembangan kawasan agropolitan secara terintegrasi, perlu disusun Master Plan Pengembangan Kawasan Agropolitan yang akan menjadi acuan penyusunan program pengembangan. Adapun muatan yang terkandung didalamnya adalah :

1. Penetapan pusat agropolitan yang berfungsi sebagai (Douglas, 1986) :

a. Pusat perdagangan dan transportasi pertanian (agricultural trade/ transport center).

b. Penyedia jasa pendukung pertanian (agricultural support services).

c. Pasar konsumen produk non-pertanian (non agricultural consumers market).
d. Pusat industri pertanian (agro-based industry).
e. Penyedia pekerjaan non pertanian (non-agricultural employment).
f. Pusat agropolitan dan hinterlannya terkait dengan sistem permukiman nasional, propinsi, dan kabupaten (RTRW Propinsi/ Kabupaten).

2. Penetapan unit-unit kawasa pengembangan yang berfungsi sebagai (Douglas, 1986) :

a. Pusat produksi pertanian (agricultural production).

b. Intensifikasi pertanian (agricultural intensification).

c. Pusat pendapatan perdesaan dan permintaan untuk barang-barang dan jasa non pertanian (rural income and demand for non-agricultural goods and services).

d. Produksi tanaman siap jual dan diversifikasi pertanian (cash crop production and agricultural diversification).

3. Penetapan sektor unggulan:

a. Merupakan sektor unggulan yang sudah berkembang dan didukung oleh sektor hilirnya.

b. Kegiatan agribisnis yang banyak melibatkan pelaku dan masyarakat yang paling besar (sesuai dengan kearifan lokal).

c. Mempunyai skala ekonomi yang memungkinkan untuk dikembangkan dengan orientasi ekspor.



4. Dukungan sistem infrastruktur

Dukungan infrastruktur yang membentuk struktur ruang yang mendukung pengembangan kawasan agropolitan diantaranya : jaringan jalan, irigasi, sumber-sumber air, dan jaringan utilitas (listrik dan telekomunikasi).

5. Dukungan sistem kelembagaan.

a. Dukungan kelembagaan pengelola pengembangan kawasan agropolitan yang merupakan bagian dari Pemerintah Daerah dengan fasilitasi Pemerintah Pusat.

b. Pengembangan sistem kelembagaan insentif dan disinsentif pengembangan kawasan agropolitan.

Melalui keterkaitan tersebut, pusat agropolitan dan kawasan produksi pertanian berinteraksi satu sama lain secara menguntungkan. Dengan adanya pola interaksi ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah (value added) produksi kawasan agropolitan sehingga pembangunan perdesaan dapat dipacu dan migrasi desa-kota yang terjadi dapat dikendalikan.

MENTAN

Agricultural Producers


Agricultural producers will find information about economic forecasts and statistics, policies and acts, incentive programs and other services.

Animal Production


Animal producers can find market information on livestock, meat, poultry, egg and dairy products, programs, and links to related producer organizations.
Crop Production

Crop producers can find information on fruits, vegetables, honey, maple, greenhouse, ornamentals, pulses, special crops, grains and oilseeds commodities including: commodity reports, markets information, business incentives, trade data, and links to related associations and government initiatives.
Organic Production

The organic food market is a dynamic and rapidly growing sector of the global food industry. Find statistics about the organic market, information about organic certification and links to the laws and regulations governing organic production in Canada.
Young and Beginning Farmers

New farmers are key to the revitalization of the agriculture sector. That is why there are a variety of programs and services available to help them get established in agriculture. This website section, therefore targets young and beginning farmers in order to allow them to learn about these tools and find out which programs may meet their needs.


Pembangunan Visi 1000 Desa Mandiri Pertanian

100 Kecamatan Sentra Agroindustri

Pusat Pengembangan Buah-Buahan Tropis dan Sayur-Mayur Hijau



(Bersambung)


Ucapan Terima Kasih kepada:

Dr. Ir. Soenarno, Dipl.HE.

Mantan Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah (Menkimpraswil)

1. Fakultas Tehnik Sipil Universitas Gajah Mada Yogyakarta.September 1962

2. IHE Delft (Sp.I) International Institute for Hydraulic and Environmental Engineering Delft, The Netherlands September 1977

3. Doctorate Degree Program in Civil Engineering Columbia Pacific University, San Rafael, California, USA Nopember 1982


To all my friends


Kepala Divisi Agropolitan Project:

Achmad Yozar P.


1. Riki (Civil Engineering, Universitas Indonesia)

2. Widia P. M. (Civil Engineering, UNIGA)

3. Erwin P. L. (Civil Engineering, UNIGAL)

4. Fadly F. (Civil Engineering, UMY)

5. Gilang G. N. K. (Civil Engineering. ITENAS)

6. Deni Nugraha (Kota Banjar)

7. Ismail M. S (Pertanian UNSOED)

Referensi

1. Douglas, Michael, Regional Networks Development, UNHCS-Bappenas, 1986
2. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Profil Kawasan DPP dan Agropolitan, 2002.
3. Direktorat Jenderal Perkotaan dan Perdesaan, Bantuan teknik Penyusunan Rencana Teknis dan DED 7 kawasan di 7 Propinsi, 2002
4. Porter, Michael, The Competitive Advantage of Nations, Cambridge, 1998.
5. Soenarno, Pengembangan Kawasan Agropolitan Dalam Rangka Pengembangan Wilayah, 2003.
6. UU NO 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang Nasional, Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional (BKTRN), 1992.
7. Yudhohusodo, Siswono, Laporan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia, 2002

Semoga bermanfaat dan Terima Kasih

Senin, 17 Januari 2011

Agropolitan Project




PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN



PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN DALAM RANGKA PENGEMBANGAN WILAYAH YANG BERBASIS RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL

Oleh :

Ir. Ruchyat Deni Djakapermana, M.Eng

I. Latar Belakang

Kesenjangan antara kawasan perkotaan dan perdesaan serta kemiskinan di perdesaan telah mendorong upaya-upaya pembangungan di kawasan perdesaan. Meskipun demikian, pendekatan pengembangan kawasan perdesaan seringkali dipisahkan dari kawasan perkotaan. Hal ini telah mengakibatkan terjadinya proses urban bias yaitu pengembangan kawasan perdesaan yang pada awalnya ditujukan untuk meningkatkan kawasan kesejahteraan masyarakat perdesaan malah berakibat sebaliknya yaitu tersedotnya potensi perdesaan ke perkotaan baik dari sisi sumber daya manusia, alam, bahkan modal (Douglas, 1986).


Kondisi tersebut diatas, ditunjukkan dengan tingginya laju urbanisasi. Data Survey Penduduk Antarsensus (SUPAS) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan tingkat urbanisasi di Indonesia dari 37,5% (tahun 1995) menjadi 40,5% (tahun 1998). Proses urbanisasi yang terjadi seringkali mendesak sektor pertanian ditandai dengan konversi lahan kawasan pertanian menjadi kawasan perkotaan, dimana di pantai utara Jawa mencapai kurang lebih 20 %. Konsekuensi logis dari kondisi ini adalah menurunnya produktifitas pertanian.

Kondisi ini mengakibatkan Indonesia harus mengimpor produk-produk pertanian untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Tercatat, Indonesia harus mengimpor kedelai sebanyak 1.277.685 ton pada tahun 2000 dengan nilai nominal sebesar US$ 275 juta. Pada tahun yang sama, Indonesia mengimpor sayur-sayuran senilai US$ 62 juta dan buah-buahan senilai US$ 65 juta (Siswono Yudohusodo, 2002).

Berdasarkan kondisi tersebut, tidak berarti pembangunan perdesaan menjadi tidak penting, akan tetapi harus dicari solusi untuk mengurangi urban bias. Pengembangan kawasan agropolitan dapat dijadikan alternatif solusi dalam pengembangan kawasan perdesaan tanpa melupakan kawasan perkotaan. Melalui pengembangan agropolitan, diharapkan terjadi interaksi yang kuat antara pusat kawasan agropolitan dengan wilayah produksi pertanian dalam sistem kawasan agropolitan. Melalui pendekatan ini, produk pertanian dari kawasan produksi akan diolah terlebih dahulu di pusat kawasan agropolitan sebelum di jual (ekspor) ke pasar yang lebih luas sehingga nilai tambah tetap berada di kawasan agropolitan.

Meskipun demikian, pengembangan kawasan agropolitan sebagai bagian dari pengembangan wilayah nasional tidak bisa terlepas dari Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) yang merupakan matra spasial yang menjadi kesepakatan bersama. RTRWN penting untuk dijadikan alat untuk mengarahkan pengembangan kawasan agropolitan sehingga pengembangan ruang nasional yang terpadu dan sistematis dapat dilaksanakan. Sosialisasi kepada pihak-pihak yang terkait dengan pengembangan kawasan agropolitan tentang hal ini mutlak diperlukan, sehingga muncul pemahaman bersama tentang pentingnya proses ini untuk mewujudkan pembangunan yang serasi, seimbang, dan terintegrasi.

 Arip Nurahman

II. Issue dan Permasalahan Pengembangan Kawasan Perdesaan.

1. Menurut UU No. 24/ 1992 tentang Penataan Ruang disebutkan bahwa “Penataan ruang berdasarkan fungsi kawasan dan aspek kegiatan meliputi kawasan perdesaan, kawasan perkotaan, dan kawasan tertentu”. Berdasarkan hal tersebut, diperlukan adanya penegasan terhadap “kedudukan” kawasan perdesaan yang berarti penegasan terhadap fungsi dan peran kawasan perdesaan. Selanjutnya, fungsi dan peran kawasan perdesaan ini seharusnya dijabarkan dalam rencana tata ruang wilayah yang akan menjadi acuan pengembangan kawasan perdesaan.

2. Selama ini ukuran keberhasilan pembangunan hanya dilihat dari terciptanya laju pertumbuhan perekonomian yang tinggi dimana alat yang dipergunakannya adalah dengan mendorong industrialisasi di kawasan-kawasan perkotaan. Kondisi ini bila ditinjau dari pemerataan pembangunan telah memunculkan kesenjangan antara kawasan perdesaan dan perkotaan karena sektor strategis yang didoroing dalam proses industrialisasi hanya dimiliki oleh sebagian masyarakat (Sonarno, 2003).

3. Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia yang diperkirakan pada tahun 2035 akan bertambah menjadi dua kali lipat dari jumlah saat ini atau menjadi 400 juta jiwa, telah memunculkan kerisauan akan terjadinya keadaan “rawan pangan” di masa yang akan datang. Selain itu, dengan semakin meningkatnya tingkat pendidikan dan kesejahteraan masyarakat terjadi pula peningkatan konsumsi perkapita untuk berbagai jenis pangan, akibatnya dalam waktu 35 tahun yang akan datang Indonesia membutuhkan tambahan ketersediaan pangan yang lebih dari 2 kali lipat jumlah kebutuhan saat ini (Siswono Yudohusodo, 2002).

4. Lemahnya dukungan makro ekonomi terhadap pengembangan produk pertanian dapat menjadi hambatan dalam pengembangan kawasan agropolitan. Perlu adanya perlindungan yang serius terhadap kegiatan pertanian melalui stabilisasi harga produk pertanian pada level yang wajar. Lemahnya dukungan kebijakan fiskal dan moneter seperti bebas masuknya produk pertanian impor dengan harga murah dan mahalnya suku bunga kredit pertanian merupakan faktor-faktor yang dapat menghambat pengembangan perdesaan. Pada akhirnya, kondisi ini menjadi disinsentif terhadap usaha pertanian.

5. Pada tingkat mikro, masih rendahnya produktifitas dan pemasaran, pertanian, kelembagaan yang tidak kondusif, dan lingkungan permukiman yang masih rendah merupakan permasalahan-permasalahan yang seringkali menjadi hambatan dalam pengembangan perdesaan.

6. Kondisi budaya petani lokal yang cenderung subsisten perlu mendapatkan perhatian yang serius apabila ingin merubah budaya tersebut menjadi budaya agribisnis. Tanpa adanya peningkatan pemahaman dan kemampuan petani, akan sulit meningkatkan produktifitas pertanian untuk mendukung pengembangan agroindustri.



III. Konsep Pengembangan Kawasan Agropolitan

Berdasarkan issue dan permasalahan pembangunan perdesaan yang terjadi, pengembangan kawasan agropolitan merupakan alternatif solusi untuk pengembangan wilayah (perdesaan). Kawasan agropolitan disini diartikan sebagai sistem fungsional desa-desa yang ditunjukkan dari adanya hirarki keruangan desa yakni dengan adanya pusat agropolitan dan desa-desa di sekitarnya membetuk Kawasan Agropolitan.

Disamping itu, Kawasan agropolitan ini juga dicirikan dengan kawasan pertanian yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha agribisnis di pusat agropolitan yang diharapkan dapat melayani dan mendorong kegiatan-kegiatan pembangunan pertanian (agribisnis) di wilayah sekitarnya (lihat gambar 1).

Dalam pengembangannya, kawasan tersebut tidak bisa terlepas dari pengembangan sistem pusat-pusat kegiatan nasional (RTRWN) dan sistem pusat kegiatan pada tingkat Propinsi (RTRW Propinsi) dan Kabupaten (RTRW Kabupaten). Hal ini disebabkan, rencana tata ruang wilayah merupakan kesepakatan bersama tentang pengaturan ruang wilayah. Terkait dengan Rencana Tata Ruang Nasional (RTRWN), maka pengembangan kawasan agropolitan harus mendukung pengembangan kawasan andalan. Dengan demikian tujuan pembangunan nasional dapat diwujudkan.


Disamping itu, pentingnya pengembangan kawasan agropolitan di Indonesia diindikasikan oleh ketersediaan lahan pertanian dan tenaga kerja yang murah, telah terbentuknya kemampuan (skills) dan pengetahuan (knowledge) di sebagian besar petani, jaringan (network) terhadap sektor hulu dan hilir yang sudah terjadi, dan kesiapan pranata (institusi). Kondisi ini menjadikan suatu keuntungan kompetitif (competitive advantage) Indonesia dibandingkan dengan negara lain karena kondisi ini sangat sulit untuk ditiru (coping) (Porter, 1998). Lebih jauh lagi, mengingat pengembangan kawasan agropolitan ini menggunakan potensi lokal, maka konsep ini sangat mendukung perlindungan dan pengembangan budaya sosial local (local social culture).

(Bersambung)

 Membangun
Visi Pengembangan Ternak Sapi 1.000.000 Ekor 
di Daerah Greater East Periangan Area

Farm

1. Pemetaan Wilayah Potensi Ternak Sapi

2. Perancangan kegiatan Usaha Ternak Sapi

3. Perancangan Kawasan Ternak Sapi Terpadu

4. Pengolahan Hasil Ternak

Ucapan Terima Kasih Kepada:


Dr. Ir. Soenarno, Dipl.HE. 

Mantan Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah (Menkimpraswil)
1. Fakultas Tehnik Sipil Universitas Gajah Mada Yogyakarta.September 1962
2. IHE Delft (Sp.I) International Institute for Hydraulic and Environmental Engineering Delft, The Netherlands September 1977
3. Doctorate Degree Program in Civil Engineering Columbia Pacific University, San Rafael, California, USA Nopember 1982
to all my friend

Kepala Divisi Agropolitan Project:

Achmad Yozar P.
1. Riki (Civil Engineering, Universitas Indonesia)
2. Widia P. M. (Civil Engineering, UNIGA)
3. Erwin P. L. (Civil Engineering, UNIGAL)
4. Fadly F. (Civil Engineering, UMY)
5. Gilang G. N. K. (Civil Engineering. WIDIATAMA)
6. Deni Nugraha (Kota Banjar)
7. Ismail M. S (Pertanian UNSOED)


Referensi:

1. Douglas, Michael, Regional Networks Development, UNHCS-Bappenas, 1986
2. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Profil Kawasan DPP dan Agropolitan, 2002.
3. Direktorat Jenderal Perkotaan dan Perdesaan, Bantuan teknik Penyusunan Rencana Teknis dan DED 7 kawasan di 7 Propinsi, 2002
4. Porter, Michael, The Competitive Advantage of Nations, Cambridge, 1998.
5. Soenarno, Pengembangan Kawasan Agropolitan Dalam Rangka Pengembangan Wilayah, 2003.
6. UU NO 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang Nasional, Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional (BKTRN), 1992.
7. Yudhohusodo, Siswono, Laporan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia, 2002
Semoga bermanfaat dan Terima Kasih

Kamis, 06 Januari 2011

Seneby Adventure & Tourism

Kepala Divisi:

Ita Dwi. K.

Visi

Liburan Bareng Keluarga Semakin Menyenangkan

Misi

Kebahagiaan anda adalah kebahagiaan kami


PANGANDARAN


Mengembangkan Daerah Wisata Terpadu di Daerah Pangandaran

BANJAR


Perencanaan Pembangunan Daerah Wisata Keluarga di Daerah Banjar

BANDUNG


Memacu Pertumbuhan Wisata Alam dan Edukasi di Wilayah Bandung Raya





CIAMIS




JAKARTA

AyoOooo., Liburan ke PuLau Tidung.

MantabzZzzz.,

  • FasiLitas
1. Transportasi kapal laut: Pelabuhan Muara Angke - Pulau Tidung (pulang-pergi)
2. Welcome drink sesampai di pulau
3. Penginapan (guest house) berupa HOME STAY
4. Perlengkapan snorkling (kacamata renang muka, fin shoes, snorkell & life jacket)
5. Sepeda (1 orang 1 sepeda seharian) alat transportasi selama di PuLau tidung
6. Makan 3 kali (nasi + minum + ayam/ikan/cumi + lalapan + sambel + buah dalam box atau prasmanan. Khusus paket 3 hari 2 malam makan 6x)
7. Guide wisata pulau & snorkling per kelompok
8. TraditionaL boat
9. BBQ ikan dengan peralatan bakar yang telah disediakan
10. Oleh-oleh makanan khas pulau tidung
11. Menanam bibit Mangrove (khusus paket GO GREEN)
Ket:
  • Jembatan Surau Madu --> Menghubungkan P. Tidung Barat dan Timur. Di PuLau Tidung Timur tak berpenghuni ada makam PangLima Hitam (penakLuk bajak Laut) truz ada gubuk dikeLiLingi pohon cemara.
  • JaLan setapak yg membagi puLau
  • Sunset
  • Sunrise
  • Kaisar (motor 3 roda) à Rp. 15.000/sekaLi naik atau Rp. 50.000/hari
  • Sampan untuk meLewati jembatan Surau Madu yg rusak di bagian ujungnya Rp.5.000
  • Perkiraan JadwaL Aktivitas
Day 1

06.00 -->KumpuL di PeLabuhan Muara Angke
07.00 --> Berangkat dari PeLabuhan Muara Angke menuju PuLau Tidung. Komposisi kapaL penyebrangan 150 orang, dua Lantai, bagian atas terbuka setengahnya
09.00 atau 10.00 atau 10.30 --> Nyampe di PuLau Tidung & pemandu akan menjemput di dermaga menuju ke penginapan
10.30 --> Peserta istirahat sebentar sambil minum jus buah yg disediakan (welcome drink), pembagian grup, setelah itu keliling-keliling pulau bersama pemandu sambil menunggu makan siang dan istirahat. Bisa jadi Langsung snorkLing jam 11.00
11.00 (grup A) dan 13.00 (grup B) --> Prepare untuk snorkling (memilih peralatan yg pas), snorkling, Foto2 di jembatan Surau Madu
13.00 (grup A) --> Makan siang. Grup B makan siang duLuan & pergi snorkLing

Sore --> Sunset
19.30 --> Makan malam & Free activity
23.30 --> Barbeque & Free activity. Biasa’y ikan utik (ikan hiu ukuran keciL)

Day 2

05.00 s.d. 11.30 --> Acara bebas sebelum check out 
 (sunrise, sepeda ria, naek motor tiga roda [Kaisar], dLL)

Truz menuju dermaga untuk kembali ke Jakarta
  • Jasa Tidung IsLand TraveL (TariF Sudah Mencakup Semua FasiLitas)
Harga promo paket penginapan NON AC 2 hari 1 malam :
5 orang = Rp 335.000,- per orang
6 orang = Rp 325.000,- per orang
7 orang = Rp 315.000,- per orang
8 orang = Rp 305.000,- per orang
9 orang = Rp 295.000,- per orang
Lebih dari 10 orang = Rp 285.000,- per orang
  • Jasa PuLau Seribu Wisata (TariF Sudah Mencakup Semua FasiLitas)
Rp. 270.000 /orang (>15 orang)
Rp. 280.000 /orang (10-15 orang)
Rp. 290.000 /orang (7-9 orang)
  • Ga Pake Guide (Harga Per Orang KaLo Yg Ikut 8 Orang)
Kapal Muara Angke - Tidung PP: Rp. 33.000 atau Rp. 35.000
Penginapan (Rp. 250.000 atau Rp.300.000): Rp. 31.250 atau Rp. 37.500
Sewa sepeda ( dihitung 1 hari): Rp. 15.000 atau Rp. 20.000
Sampan: Rp.5000
4 kali makan (@15rb): Rp. 60.000
3 Kg ikan + perlengkapan barbeque (Rp. 100.000): Rp. 12.500
Sewa kapal untuk snorkeling (untuk 2 grup Rp. 250.000): Rp. 31.250
Alat snorkeling: Rp. 20.000 atau Rp. 30.000 atau Rp. 35.000
Kapal P.Tidung - Muara Angke: Rp. 33.000 atau 35.000
TOTAL = Rp. 241.000 sampai Rp. 271.250
Ket: bLom ongkos kereta & angkot or busway
Bisa nyari2 Lagi Jasa TraveL yg lebih murah sihhh.,



JaLan Setapak
Jembatan Sura Madu
Jalan Setapak
Sepeda Ria
SnorkLing
Jembatan Surau Madu
Pantai PuLau Tidung

Jembatan Surau Madu


PURWOKERTO


Ikut Mengembangakan Kota Wisata Budaya

JOGJAKARTA


Seneby Adventure and Tourism Always Happy

Kita Bisa!

Sabtu, 18 Desember 2010

Seneby ICT Corp.

Bidang Usaha

Seneby InfoCom adalah sebuah anak perusahaan Seneby Corporation yang menangani masalah Usaha dan IPTEK TIK dan Elektronika.

Visi: Memiliki 1000 Gerai Toko, Service dan Produksi di Seluruh Indonesia

Bidang-Bidang Usaha.

1. Hardware
2. Peripheral & Accessories Sales
3. Software Sales
4. Laptop Sales & Up Grade
5. PC Sales & Up Grade

Clinics Doctor Computer

1. Trouble Shooting
2. Service
3. Back-Up & Data Recovery
4. Virus Care & System Recovery
5. Install & Setting

Maintenance

1. Security & Networking
2. ICT Consultant
3. ICT Training

*Software Application Training
*Linux & OSS (Open Sources System)Training
*Windows OS & Tools Training

Graphic Design & Multimedia

1. Design Service
2. Packet Design
3. Video Editing and Aimation
4. Percetakan, dan Foto Copy
5. Program Interactive Multimedia
6. Clothing
7. Merchandise
8. Packet Seminary Kit
9. Packet Event Needs

Software Development House

1. Information System
2. Web Development
3. Software Application
4. Open Sources Software
5. E-Learning

Kita Pasti Bisa!

Jumat, 05 November 2010

Rumah Pekerjaan


Rumah Pekerjaan

Visi

Mempersiapkan para pekerja berkualitas

Misi

Persiapan

Pendidikan

Pelatihan


Mengais Rezeki di Internet

Memperoleh hasil sampingan dari Internet barangkali merupakan keinginan sederhana banyak orang / pengguna Internet. Tulisan ini akan mencoba menjelaskan beberapa langkah yang mungkin dapat digunakan oleh banyak pengguna biasa di Internet untuk memperoleh rejeki yang halal. 


Tidak ada yang Instan. Keberhasilan membutuhkan kerja keras dan ketekunan dalam jangka waktu yang lama / panjang.

Perlu kita sadari bersama bahwa semua proses yang akan di terangkan di bawah ini bukan proses Instan. Hanya mereka yang tekun, yang konsisten untuk berkiprah pada sebuah bidang yang fokus yang nantinya akan memetik hasil di kemudian hari. Kecenderungan yang ada, kebanyakan orang lebih suka yang instan kalau perlu tanpa kerja susah payah bisa dapat uang banyak. Rasanya hanya ada segelintir kesempatan yang seperti itu. Sebagian besar kesempatan yang ada harus di raih dengan kerja keras dan konsistensi dalam jangka panjang. 

Tulisan tentang teknik ini di Internet dapat di baca di

 

Beberapa Tip Dasar




Beberapa nasihat sederhana yang mungkin perlu di resapi agar kita dapat berkiprah dengan baik di Internet
  • Hati-hati di Internet banyak juga orang yang suka menipu dan mencuri. Jangan pernah berhubungan / berdagang dengan penipu / pencuri / carder, bukan mustahil anda juga akan di tipu mentah-mentah.
  • Dimanapun, apalagi di Internet, sebuah usaha bertumpu pada "trust" (kepercayaan).
    • Jangan pernah menipu / berbohong / menulis tidak baik, Kata pepatah "Sekali lancung ke ujian seumur hidup orang tak percaya".
    • Kebaikan akan menjadi pembicaraan / buah bibir / berita mulut ke mulut yang baik di Internet.
  • Alat menjadi tidak penting. Dengan modal "dengkul"-pun kita bisa berkiprah / berdagang di Internet.
  • Perhatikan & pelajari mereka yang berhasil dalam usahanya.
  • Pasang mata & telinga lebar-lebar, perhatikan pembicaraan / kesukaan / kebutuhan orang melalui blog, forum, mailing list, group, facebook dll.
  • kemampuan menulis, mengekspresikan pendapat dalam bentuk tulisan akan sangat membantu. Ada baiknya membaca-baca tentang Hidup & Berkiprah Sebagai Penulis.

 

Mengais Rejeki

 

Pada kesempatan ini akan dicoba di bahas beberapa tahapan mengais rejeki di Internet tergantung kemampuan / modal yang miliki. Tahapan yang akan di bahas meliputi beberapa hal yaitu,
  • Modal dengkul (biaya operasi dari minim banget s/d Rp. 100-200.000 / bulan).
  • Lebih serius
    • Mengais melalui Blog; ini agak lebih serius.
    • Menyewa tempat / situs untuk jualan.
  • Knowledge Commerce - berjualan "otak" / kepandaian, bukan sekedar berjualan barang.



Menjadi Mitra BUMN dalam Pelatihan, Training dan Pengembangan Usaha.

Visi:

Pelatihan 1000 Orang di Tahun 2015

Pelatihan 10.000 Orang Tenaga Kerja di Tahun 2020

Pelatihan 100.000 Orang Tenaga Kerja di Tahun 2030 

Lowongan Pekerjaan BUMN


Jasa Keuangan, Jasa Konstruksi, dan Jasa Lainnya

Perbankan

Asuransi

Jasa Pembiayaan

Jasa Konstruksi

Konsultan Konstruksi

Penunjang Konstruksi

Jasa Penilai

Jasa Lainnya

Logistik dan Pariwisata

Pelabuhan

Pelayaran

Kebandarudaraan

Angkutan Darat

Logistik

Perdagangan

Pengerukan

Industri Farmasi

Pariwisata

Kawasan Industri

Usaha Penerbangan

Agro Industri, Kehutanan, Kertas, Percetakan, dan Penerbitan

Perkebunan

Pertanian

Perikanan

Pupuk

Kehutanan

Kertas

Percetakan dan Penerbitan

Pertambangan, Industri Strategis, Energi dan Telekomunikasi

Dok dan Perkapalan

Pertambangan

Energi

Industri Berbasis Teknologi

Baja dan Konstruksi Baja

Telekomunikasi

Industri Pertahanan

Semen

Industri Sandang

Aneka Industri

Perusahaan Patungan Minoritas*

Asuransi

PT Bahana PUI
PT Prasadha Pamunah Limbah Industri
PT Rekayasa Industri

Kawasan Industri



Semoga Bermanfaat