Sabtu, 21 November 2009

Menggagas Banjar Creative City


Elemen yang membangun sebuah Kota Kreatif.

1. Education

2. Invest

3. Nature

4. Tourism

5. Architecture

Belajar dari Kota Paris Van Java


Artikel ini merupakan review singkat mengenai riset perkembangan ekonomi kreatif di Bandung. Sengaja saya langsung upload ke heterologia.multiply.com untuk melibatkan beberapa teman yang tertarik untuk berdiskusi secara interaktif. Bagi yang mau ikut membahas saya persilahkan.

Sudah selama beberapa bulan terakhir ini saya banyak mengumpulkan dan membaca artikel tentang perkembangan industri kreatif di kota Bandung. Selain melakukan kegiatan pengarsipan informasi digital di www.bandungcreativecityblog.wordpress.com, saya juga sempat menghadiri beberapa pertemuan yang secara khusus membicarakan masalah ini. Diantaranya mungkin masih ada yang ingat dengan pertemuan Bandung Creative City Forum di Common Room pada tanggal 7 Februari 2008 yang telah lalu.

Selain itu ada banyak diskusi, seminar, pertemuan dan rapat-rapat khusus yang membahas peluang pengembangan industri kreatif di kota Bandung. Penyelenggaranya mulai dari komunitas, organisasi, universitas, sampai pada pemerintah pusat dan daerah.
Dalam sebuah pertemuan di Yokohama, Ridwan Kamil (arsitek/ urban planer, URBANE) menyatakan bahwa dengan segala potensi yang dimilikinya, kota Bandung telah mendapatkan penghargaan dan menjadi bagian dari jaringan pengembangan kota kreatif yang menghubungkan beberapa kota semisal Bangkok, Singapura, Kuala Lumpur, Manila, Hanoi, Hong Kong, Taipei, London, Auckland, Istambul, Bogota dan Glasgow.

Sampai tiga tahun ke depan, kota Bandung akan menjadi proyek percontohan pengembangan kota kreatif se-Asia Pasifik.

Hal ini pertama kali diungkap dalam seminar International Education & Employability – Developing the Creative Industries yang diselenggarakan oleh British Council di Bandung pada tanggal 29 s/d 31 Oktober 2007. Dalam pameran Bandung Creative Showcase yang diselenggarakan di Common Room pada waktu yang sama, beberapa delegasi seminar tersebut bahkan menyatakan bahwa mereka harus belajar dari pengalaman kota Bandung yang dapat mengembangkan aktifitas ekonomi kreatif yang berbasis komunitas dan peran usaha kecil dan menengah (UKM).

Apa yang terjadi di kota Bandung bisa jadi merupakan kasus unik yang hanya bisa terjadi di negara berkembang. Hal ini tentunya merupakan sebuah contoh bagaimana kreatifitas betul-betul mampu menjadi pemicu gelombang pertumbuhan ekonomi baru di kawasan ini.




"Dalam Sebuah Komunitas SENEBIAN Terlahirlah Ide untuk membangun
"Banjar Creative City"
~SENEBIAN~



Langkah Strategis Membangun Kota Banjar menjadi Creative City

(i) Secara fisik, kota kreatif memerlukan infrastruktur jalan dan transportasi umum yang prima untuk lalu lintas warga kota dan pendatang. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas jalan dan pengelolaan seluruh moda angkutan umum harus diperbaiki mendekati standar negara maju; 

(ii) Daya magnet kota Banjar yang kuat bagi pendatang harus diimbangi dengan kapasitas jasa hotel memadai dan agen perjalanan yang professional. Perlu ada pelayanan yang baik untuk akomodasi di dalam kota dan akses ke kota; 

(iii) Secara teknologi, untuk mengakselerasi skala industrinya, kota Banjar harus didukung oleh infrastruktur telekomunikasi pita lebar untuk akses ke dunia maya. Telekomunikasi pita lebar akan memperluas jangkauan pasar dan memperluas jejaring mitra kerja industri kreatif; 

(iv) Secara budaya, warga kota harus siap bertoleransi terhadap keberagaman tata cara dan gaya hidup berbagai kelompok etnik untuk membangun ketentraman sosial. Fanatisme secara sempit terhadap nilai nilai moral dan budaya harus digantikan dengan tenggang rasa dan apresiasi terhadap perbedaan; 

(v) Pada akhrinya pihak pemerintah harus mampu memainkan peranan pengaturannya secara efektif, yaitu memberikan jaminan keamanan, perlindungan hak cipta, dan melakukan desentralisasi pusat pusat keramaian ke daerah penyangga untuk memeratakan kegiatan ke seluruh penjuru wilayah.

CREATIVE CITY


Creative Urban Projects
Creative City is a new organization that creates projects that engage artists with audiences, taking the arts into different territories.
“We believe that Art can really engage people on issues that touch them. Our aim is to create high quality projects that are both publicly accessible and viable works of art in themselves.”

Education, employability and the creative industries policy dialogue
Dialogue objectives

This dialogue tackled global issues facing the creative industries and looked to inform policy and practice developments in the UK and countries in East Asia through sharing key issues in education and employability between senior educationalists and policy leaders within the creative industries. More specifically, dialogue delegates centred their discussions on the following:
Policy drivers and key players

Developing the creative industries, including:

1. The role of education in supporting the creative industries.
2. The role of industry in up-skilling the creative industries workforce.
3. Improving models of partnership and knowledge exchange across business and education.

Practical approaches Developing relevant and appropriate learning opportunities, including:
1. Encouraging leadership and entrepreneurship in the creative industries – promoting international competitiveness.
2. Developing business and entrepreneurial skills.
3. Signposting progression routes and improving career information.

Examples of key initiatives from UK and the region
1. Opportunities to showcase relevant initiatives.
2. How we can learn from each other.
3. How education, industry and governments can work together to support the creative industries.

The creative city: a toolkit for urban innovators

Maju Terus Kota Banjar

Sumber: 

Ridwan Kamil

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar