Selasa, 20 Januari 2009

A Brief History of Banjar City

Kota Banjar adalah tempat dimana kami hidup dan tinggal ketika sedang sekolah di SMAN 1 Banjar. Bertemu karena sebuah suratan dari Yang Maha Kuasa, banyak tersimpan cerita di kota ini, baik duka maupun suka.

Kami bermimpi suatu saat Kota ini menjadi kota yang benar-benar IDAMAN.

Sejarah Berdirinya Pemerintah Kota Banjar

Sejarah Pembentukan Kota Banjar tidak terlepas dari sejarah berdirinya Pemerintah Kabupaten Ciamis di masa lalu. Rangkaian waktu perjalanan berdirinya Pemerintah Kabupaten Ciamis sampai terbentuknya Pemerintah Kota Banjar melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :
I. Banjar dalam sejarah perkembangannya

Banjar sejak didirikan sampai sekarang mengalami beberapa kali perubahan status, untuk lebih jelas perkembangannya sebagai berikut :

A. Banjar sebagai Ibukota Kecamatan, dari tahun 1937 sampai tahun 1940.
B. Banjar sebagai Ibukota Kewadanaan, dari tahun 1941 sampai dengan 1 Maret 1992
C. Banjar sebagai Kota Administratif dari tahun 1992 sampai dengan tanggal 20 Pebruari 2003.
D. Banjar sebagai Kota sejak tanggal 21 Pebruari 2003.
II. Terbentuknya Banjar Kota Administratif

Perkembangan dan kemajuan wilayah Provinsi Jawa Barat pada umumnya dan Kabupaten Ciamis khususnya wilayah Kecamatan Banjar, memerlukan pengaturan penyelenggaraan pemerintahan secara khusus guna menjamin terpenuhinya tuntutan perkembangan dan kemajuan sesuai dengan aspirasi masyarakat di Wilayah Kecamatan Banjar.
Wilayah Kecamatan Banjar menunjukan perkembangan dan kemajuan dengan ciri dan sifat kehidupan perkotaan, atas hal tersebut wilayah Banjar perlu ditingkatkan menjadi Kota Administratif yang memerlukan pembinaan serta pengaturan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan secara khusus.
Akhirnya tahun 1992 Pemerintah membentuk Banjar Kota Administratif berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 1991 tentang Pembentukan Banjar Kota Administratif yang diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 2 Maret 1992.
Beberapa alasan mengapa Banjar menjadi Kota administratif antara lain :

Keadaan Geografis, Demografis dan sosiologis kehidupan masyarakat yang perkembangannya sangat pesat sehingga memerlukan peningkatan pelayanan dan pengaturan dalam penyelenggaraan pemerintahan.

III. Terbentuknya Kota Banjar

Semakin pesatnya perkembangan dan tuntutan aspirasi masyarakat yang semakin mendesak agar Banjar Kota Administratif segera ditingkatkan menjadi Pemerintah Kota dimana hal ini pun sejalan dengan tuntutan dan undang-undang nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan di sisi lain Pemerintah Kabupaten Ciamis bersama-sama Pemerintah Provinsi Jawa Barat memperhatikan perkembangan tersebut dan mengusulkan kepada Pemerintah Pusat dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
Momentum peresmian Kota Banjar yang diikuti pelantikan Penjabat Walikota Banjar dapat dijadikan suatu landasan yang bersejarah dan tepat untuk dijadikan Hari jadi Kota Banjar.

History is the study of the past, particularly the written record of the human race, but more generally including scientific and archaeological discoveries about the past. Recently, there has been an increased interest in oral histories and traditions, passed down from generation to generation verbally. New technology, such as photography, sound recording, and motion pictures, now complement the written word in the historical record. History is a field of research producing a continuous narrative and a systematic analysis of past events of importance to the human race. Those who study history as a profession are called historians.

Contents



Etymology


The word history comes from Greek ἱστορία (historia), from the Proto-Indo-European *wid-tor-, from the root *weid-, "to know, to see". This root is also present in the English words wit, wise, wisdom, vision, and idea, in the Sanskrit word veda, and in the Slavic word videti and vedati, as well as others. (The asterisk before a word indicates that it is a hypothetical construction, not an attested form.).
The Ancient Greek word ἱστορία, historía, means "inquiry, knowledge acquired by investigation". It was in that sense that Aristotle used the word in his Περί Τά Ζωα Ιστορία, Peri Ta Zoa Istória or, in Latinized form, Historia Animalium. The term is derived from ἵστωρ, hístōr meaning wise man, witness, or judge. We can see early attestations of ἵστωρ in Homeric Hymns, Heraclitus, the Athenian ephebes' oath, and in Boiotic inscriptions (in a legal sense, either "judge" or "witness," or similar). The spirant is problematic, and not present in cognate Greek eídomai ("to appear"). The form historeîn, "to inquire", is an Ionic derivation, which spread first in Classical Greece and ultimately over all of Hellenistic civilization.
It was still in the Greek sense that Francis Bacon used the term in the late 16th century, when he wrote about "Natural History". For him, historia was "the knowledge of objects determined by space and time", that sort of knowledge provided by memory (while science was provided by reason, and poetry was provided by fantasy).
The word entered the English language in 1390 with the meaning of "relation of incidents, story". In Middle English, the meaning was "story" in general. The restriction to the meaning "record of past events" arises in the late 15th century. In German, French, and most Germanic and Romance languages, the same word is still used to mean both "history" and "story". The adjective historical is attested from 1661, and historic from 1669.
Historian in the sense of a "researcher of history" is attested from 1531. In all European languages, the substantive "history" is still used to mean both "what happened with men", and "the scholarly study of the happened", the latter sense sometimes distinguished with a capital letter, "History", or the word historiography.


KOTA BANJAR : BANJAR KARANG PAMIDANGAN


Oleh : H.R. Hidayat Suryalaga
Secara administratif kewilayahan dan pemerintahan Kota Banjar belum terbilang lama, baru seumur jagung, tetapi dalam peta sejarah kebudayaan Tatar Sunda, kota Banjar telah terbilang lama dikenal dan dikenang orang.

Penulis sendiri dilahirkan ke Buana Panca Tengah, ini di sebuah kota kecil - Banjarsari - yang tidak begitu jauh dari kota Banjar ini.

Pada awal tahuh 50-an , suatu waktu di satu rumah di daerah Cimenyan dekat “pudunan viaduct”, saya mendengar seorang sesepuh berbincang dengan ayahanda, tentang “Sarsilah Banjar dan Sungai Citanduy” serta beberapa tempat yang dialirinya.

Alur cerita dan beberapa pemaknaannya masih ada yang saya ingat. Pada kesempatan sekarang izinkanlah saya memaparkan sedikit tentang yang dibincangkan sesepuh tadi. Dengan harapan pada akhirnya dari esensi yang terkandung dalam cerita ini berkemungkinan untuk dijadikan acuan dan dikaitkan dengan kegiatan kita pada saat ini yaitu “menata ruang dan lingkungan hidup yang humanis harmonis dan religius”.


BANJAR

Menurut kamus Bahasa Kawi-Indonesia, banjar = lingkungan, baris > ber-banjar = berbaris rapih arah ke belakang.
Menurut kamus Istilah Karawitan Sunda, banjar = berurutan dengan teratur > banjar nada = tinggi-rendahnya nada yang berurutan dengan teratur.

Menurut kamus Basa Sunda, banjar = barang, pakarangan.

Dengan memaknai baik secara kosa kata (etimologi) maupun perlambangan (heurmanetika), ternyata kata Banjar mengandung makna yang sangat positif, yaitu “tempat yang lingkungannya tertata rapi dari sejak dayeuh sampai ke pelosoknya”.

Maka kini pekerjaan kitalah untuk menata kota Banjar sehingga menjadi lingkungan yang rapi, teratur tidak kumuh dan tidak rujit. Kalau keadaannya tidak demikian, maka namanya bukan Banjar lagi. Bukankah kata para ahli “kalemesan budi” sering berujar bahwa setiap “asma harus terwujud dalam af’alnya ” dan itu bisa diartikan bahwa sesuatu “nama” harus tampak dalam fungsi dan realitas aktualnya, aplikatifnya.

BANJAR PATROMAN

Nama lain untuk kota Banjar pada masa yang lampau adalah Banjar Patroman. Menurut kajian etimologi, patroman berasal dari kata pataruman < an =" tarum" st="on">kota Banjar dahulu pernah ada tempat mencelup kain dengan menggunakan daun tarum (Pataruman > patroman). Hal ini perlu ditelusuri keberadaannya.

Seandainya bisa dikaji oleh para ahli, berkemungkinan nanti di sekitar kota Banjar akan menjadi salah satu sentra “industri kain” dengan warna-warna khas “banjar-patromanan (gradasi warna hijau sampai biru tua, hejo tarum)”, bukankah Ciamis/Galuh pernah terkenal dengan batik khas Ciamisan yang pernah berjaya pada masanya. (N.B tentu harus industri yang ramah lingkungan)


KOTA BANJAR SEBAGAI GERBANG TATAR SUNDA

Kota Banjar adalah titik transit lalu lintas dari daerah Jawa Barat ke arah Timur. Sebagai kota transito, tentulah pembangunan yang terencana sangat dalam segala aspeknya menjadi salah satu persyaratan yang perlu diutamakan. Tentang hal ini tentulah Pemda Kota Banjar telah mempunyai cetak biru yang perlu kita dukung bersama, agar “cetak biru” tsb bisa terwujud dengan sempurna. Hal ini perlu sosialisasi yang memadai kepada masyarakat. Sehingga semua warga tahu peran yang harus dilaksanakannya.


Selain dari itu Kota Banjar seibarat “pintu gerbang” Tatar Sunda paling Timur/Selatan. Sehingga seyogyanyalah “wajah” kota Banjar mencerminkan karakter masyarakat Sunda yang tertulis dalam setiap logo di setiap kota/kabupaten dan bermuara pada Visi Provinsi Jawa Barat yaitu “dengan Iman dan Takwa menjadi provinsi yang termaju dan terdepan sebagai mitra ibu kota”.

Sebagai kota transito akan semakin berperan besar bila jalan lintas Selatan telah dibuka. Dan ini akan kita alami dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama lagi.

ALAM KORBAN KESERAKAHAN MANUSIA

Dalam mitologi urang Sunda, bentukan alam seperti pohon, gunung, sungai dan lainnya sering dipersonifikasikan sebagai “tubuh manusia”. Hal ini menggambarkan betapa eratnya konsep kehidupan manusia dengan lingkungannya. Sehinggsa sering dikatakan oleh para sesepuh “Diri urang teh nyaeta alam sagir kekembaranana alam kabir. Lamun kualitas ajen diri alam sagir hade - alam kabir oge bakal milu jadi hade. Sabalikna upama kualitas ajen alam sagirna goreng - alam kabirna oge bakal narima balukarna anu goreng. Kitu deui sabalikna alam kabir ruksak, lahir sagir manusa oge bakal kapangaruhan jadi ruksak”.

Konsep kesadaran lingkungan yang begitu harmonis ini kini tidak dihiraukan lagi. Sehingga Seyyed Hossein Nasr seorang sosiolog-religius dari Mesir mengatakan bahwa: Alam telah dijadikan pelacur yang dikuras sampai ketingkat yang paling brutal demi keserakahan manusia (dalam bukunya Antara Tuhan - Manusia dan Alam : 29).

Pada masa lampau, kesadaran kita terhadap alam tidak hanya sebatas hubungan mahluk “natural” saja tetapi juga dimaknai sebagi sumber Keberkahan yang Ilhiah. Jagat raya beserta isinya merupakan keteraturan, keharmonisan yang diciptakan oleh Sang Maha Pemurah dan Pengasih. Tetapi pada masa sekarang kesadaran untuk hidup harmonis dengan lingkungan semakin menipis, maka terjadilah DESAKRALISASI, segala sesuatu telah kehilangan nilai-nilai ke-ilahi-annya.

Desakralisasi inilah yang melanda alam pemikiran bangsa kita, sehingga alam dengan segala isinya diperlakukan dengan semana-mena. Kita tidak faham lagi apa yang diamanatkan oleh Prabu Wastu Kancana dari Kerajaan Galuh (1371-1475 M) yang tertulis pada prasasti Kawali VIII bahwa: “ULAH BOTOH BISI KOKORO” (jangan serakah nanti sengasara).

SELURUH JAGAT RAYA MEMUJI ASMA ALLOH SWT

Di bawah ini saya sertakan terjemah Al-Qur’an dalam bahasa Sunda berbentuk pupuh, yang disebut NUR HIDAYAHAN (Disiarkan melalui Studio RRI Bandung setiap hari pukul 23.30-24.00):

· AL HAJJ. Surat ka-22 Ayat 18

Pupuh Dangdanggula: Bumi alam sadayana wiridan ngagungkeun asma Alloh SWT.
· XVII/:22/18
Naha anjeun tacan keneh yakin, saeusina alam jagat raya, wiridan ka Gusti Alloh, ka Alloh nya sumujud, saeusining bumi jeung langit, panonpoe jeung bulan, bentang katut gunung jeung sato anu ngarayap, kitu deui lolobana mungguh jalmi, nyembah Alloh Ta’ala.
· XVII/:22/=18
Tapi loba ti antara jalmi, nu geus pasti katetepanana, diajab ku Gusti Alloh, diajab ku Nu Agung, jeung sing saha bae nya jalmi, ku Alloh sina hina, ‘mo aya nu nulung, taya anu ngangkat mulya. Satemenna Alloh sakersa ngajadi, sagala sakersa-Na.
Sumber: NUR HIDAYAH Vol C. Rumpaka : Drs. H.R. Hidayat Suryalaga.
Kondisi Umum Kota Banjar

Kota Banjar adalah salah satu kota yang berada di Provinsi Jawa Barat dengan ketinggian antara 20 sampai dengan 500 meter di atas permukaan laut serta beriklim tropis dan menjadi salah satu kawasan andalan (yaitu kawasan yang mampu berperan mendorong pertumbuhan ekonomi bagi kawasan tersebut dan kawasan sekitarnya).
Tingkat kesuburan tanah Kota Banjar pada umumnya tergolong sedang (baik) dengan tekstur tanah sebagian besar halus dengan jenis tanah alufial kecuali Kecamatan Langensari selain memiliki jenis tanah alufial juga berjenis tanah podsonik merah kuning meski tidak mempengaruhi tingkat kesuburannya.
Sejak diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 21 Februari 2002 Kota Banjar sudah berjalan 3 tahun. Dalam perkembangannya Kota Banjar merupakan jalur lalu lintas penghubung antara Propinsi Jawa Barat – Jawa Tengah – Jawa Timur sehingga diharapkan mampu tumbuh sebagai kota industri, perdagangan, jasa dan pariwisata bagi Wilayah Jawa Barat bagian Timur.
Luas Wilayah Kota Banjar sebesar 13.197,23 Ha, terletak diantara 07 ° 19 ¢ - 07 ° 26 ¢ Lintang Selatan dan 108 ° 26 ¢ - 108 ° 40 ¢ Bujur Timur. Berdasarkan undang-undang nomor 27 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kota Banjar di Provinsi Jawa Barat kurang lebih 113,49 Km2 atau 11.349 Ha, dan berdasarkan luas wilayah secara Administrasi, Pemerintahan Kota Banjar meliputi 4 (empat) Kecamatan yaitu :
Tabel 1
Jumlah Desa/Kelurahan dan Luas Wilayah Perkecamatan di Kota Banjar
NO
KECAMATAN
LUAS WILAYAH (Ha)
JUMLAH DESA
2004
2005
2006
1
BANJAR
2.623,84
6
6
7
2
PATARUMAN
5.405,66
6
6
7
3
PURWAHARJA
1.826,74
4
4
4
4
LANGENSARI
3.340,99
6
6
6

JUMLAH
13.197,23
22
22
24
Sumber : Kota Banjar Dalam Angka

Sumber : Kota Banjar Dalam Angka
Kota Banjar mempunyai batas wilayah sebagai berikut :
· Sebelah Utara , berbatasan dengan Kecamatan Cisaga Kabupaten Ciamis serta Kecamatan Dayeuhluhur;
· Sebelah Timur , berbatasan dengan Kecamatan Lakbok Kabupaten Ciamis dan kecamatan Wanareja Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa Tengah;
· Sebelah Selatan , berbatasan dengan Kecamatan Lakbok dan Kecamatan Pamarican kabupaten Ciamis;
· Sebelah Barat , berbatasan dengan Kecamatan Cimaragas dan Kecamatan Cijeungjing 
Kabupaten Ciamis.

(Makalah disampaikan pada Sosialisasi Bidang Penataan Ruang melalui Aspek Agama dan Budaya. Dinas Tata Ruang dan Permukiman Prop. Jawa Barat, di Banjar, 20-8-2004. Mkl 276)
Referensi pendamping:

· Rintisan Penelurusan masa Silam Sejarah Jawa Barat. Pemda Tk I Jabar. 1983-1984.
· Kebudayaan Sunda, Edi S. Ekadjati. Pustaka Jaya. 1995.
· Kamus Kawi-Indonesia. Prof. Woyowasito. CV Pengarang. Cetakan 2.
· Kamus Bahasa Naskah dan Prasasti Sunda Abad 11-18.Editor.Prof. Dr. Edi S. Ekadjati.
· Kamus Istilah Karawitan Sunda, Atik Soepandi, Skar. Satu Nusa. 1989.
· Kasundaan - Rawayan Jati. Drs. H.R. Hidayat Suryalaga. Wahana Raksa Sunda 2003.


Terimakasih kepada Saudara Ade Akhyar Nurdin atas tulisannya di:
http://lasonearth.wordpress.com/about/sejarah-kota-banjar-patroman/

Semoga Kota Banjar Semakin Maju

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar