Jumat, 22 Mei 2009

Warung Internet

Warnet


(Warnet Masa Depan)

Seneby Nit-Net

Bibit kepercayaan yang paling kecil masih lebih baik dari buah kebahagiaan yang terbesar.

"The smallest seed of faith is better than the largest fruit of happiness."

~ Henry David Thoreau~

Cyber Cafe in Indonesia

According to APWKomitel (Association of Community Internet Center) there are 5,000 Internet Cafes in urban Indonesian cities in 2006 providing computer/printer/scanner rental, training, PC gaming and Internet Access/Rental to the people who do not have PC or Internet access at home. The website also contains a directory listing some of these warnet/telecenter/gamecenter in Indonesia. In urban areas, the generic name is Warnet (or Warung Internet) and in rural areas the generic name is Telecenter. Warnets/ Netcafes (ie: Java NetCafe established in 1998) are usually owned by private SME as bottom-up initiatives, while Telecenters in rural villages are usually initiated by Government and Donors as top-down financing. Information on Netcafe/Warnet in Indonesia can also be found in a book titled: Connected for Development:Indonesian Case study. Currently, no special license is required to operate an Internet Cafe or Warnet in Indonesia, except for the ordinary business license also applied to cafe or small shop. Because of hype and many internet cafe starting their business without proper planning, some of them closed down for lack of a business plan. Although the number is still growing, associations such as APWKomitel urge new internet cafe owners to do a feasibility study before planning to open an Internet cafe, and provide a business model called Multipurpose Community Internet Center or "MCI Center" to make the business more sustainable and competitive.


Catatan Si Penjaga Warnet Cadangan

(Saung-Net Dot Com)

Arip Nurahman

Rabu, 22 April 2009

Warung Internet

Warnet


(Warnet Masa Depan)

Seneby Nit-Net

Kelemahan manusia yang paling besar adalah keraguannya untuk mengatakan pada orang sekitar seberapa besar dia mencintai mereka, ketika mereka masih hidup.

"The greatest weakness of most humans is their hesitancy to tell others how much they love them while they’re still alive."


~ O.A. Battista~


Warnet atau Warung Internet merupakan salah satu bisnis yang cukup menjanjikan di Indonesia. Biasanya penyebaran Internet berada di tempat umum, baik sekolah maupun tempat bisnis.

Kebanyakan warnet-warnet berjatuhan karena konsumen yang kurang puas hingga bencana alam. Manajemen warnet diperlukan untuk menghindari hal tersebut dan membangun kondisi yang lebih baik.

Membangun Warnet

Untuk memulai membangun warnet, dimulai dengan survei pasar hingga mempersiapkan hardware dan software.

  • Survei apa dalam beberapa waktu kedepan bisa diterima atau tidak.
  • Menentukan posisi yang tepat untuk meletakkan/lokasi warnet.
  • Menentukan berapa banyak user maksimal untuk warnet.
  • Menentukan hardware yang dibutuhkan untuk warnet, seperti:
    • komputer untuk kasir.
    • komputer untuk server/firewall. Beberapa warnet memilih menggabungkan komputer kasir dan server menjadi satu untuk mengurangi biaya.
    • komputer user. Pelanggan dapat ditentukan, apakah dapat memakai fasilitas webcam, sound, mic dan lain-lainnya.
  • hal lain yang dijual selain jasa warnet. Pelanggan yang sudah lama didalam warnet akan mengalami masalah kalau dia meninggalkan posisinya. Menjual minuman bahkan makanan dapat menjadi alternatif. Warnet dapat pula menjual barang lainnya seperti Flash disk hingga kertas.
  • Peralatan keamanan. Bencana yang terjadi karena manusia dan alam sering terjadi. Menyiapkan peralatan pencegahan adalah tindakam pencegahan yang bagus.
  • Memilih provider.
  • Memilih preman dan mata-mata. Tindakan pencegahan untuk mengurangi tindakan anarkis dari pelanggan dan polisi yang berniat mencari keuntungan dari HAKI.
  • Memilih tehnik pembayaran. Beberapa tehnik yang diketahui / digunakan oleh warnet.
    • Penghitungan perjam
    • Penghitungan Permenit
    • Penghitungan Per satuan waktu. 20 menit, 15 menit bahkan 30 menit.
  • Memilih minimal pembayaran. Standar berbagai warnet berbeda, ada yang memberi batas minimal 30 menit, 1 jam bahkan 10 menit.
  • Memilih toleransi pembayaran. Toleransi disini maksudnya adalah waktu lebih yang digunakan oleh pelanggan sebelum dia masuk ke waktu berikutnya. sebagai contoh:[1] Beberapa warnet tidak memberikan toleransi, apabila pelanggan telah masuk ke ke detik selanjutnya dari 1 jam, maka dia di anggap masuk ke waktu berikutnya.

Penanganan Pelanggan

Pelanggan adalah raja, berbagai tindakan pelanggan dari yang sopan hingga kurang sopan atau anarkis harus selalu siap menganggulanginya. Selain masalah pelanggan, warnet juga harus menangani masalah seperti Hardware dan Software juga masalah lainnya.

Masalah Hardware

Selalu waspada pada masalah hardware. Hal paling buruk dari masalah ini adalah bisa mengakibatkan bencana kebakaran.

  • Mouse tak bergerak atau bermasalah. Ada berbagai solusi untuk menangani masalah mouse. Solusi ini berlaku pada masalah keyboard
    • lepaskan dari port dan masukkan kembali.
    • Ganti Mouse.
  • Monitor bermasalah. Selalu memperhatikan kondisi monitor pelanggan. Monitor pelanggan sangat renta dibandingkan dengan monitor

Masalah Software

Masalah software dapat bervariasi dari masalah ringan dan masalah berat. Hal yang paling terberat dari masalah ini adalah Format ulang.


Sumber:

Belanda Internet Cafe

Wikipedia

dan lainnya

Catatan Si Penjaga Warnet Cadangan

(Saung-Net Dot Com)

Arip Nurahman

Sabtu, 18 April 2009

Bisnis & Managment Sepak Bola

By: Arip Nurahman



Langkah-langkah Strategis

1. Mendirikan Sekolah-sekolah Sepak Bola yang Berkualitas

2. Mencari bibit unggul atlet sepak bola

3. Managment yang Optimal dan terarah

4. Membuat Media Motivator (Film-Film Motivasi)




Teladan:

Italian Football Academy


Arsenal Soccer School : youth football coaching by Arsenal FC



Sekolah Sepak Bola Garda Purwa


SSB Universitas Pendidkan Indonesia




Kalau ada olahraga yang bisa dibisniskan, maka tak ada yang lebih menguntungkan selain sepakbola. Tak cuma digemari mayoritas penghuni bumi, perputaran uang di dalamnya juga luar biasa. Sepakbola sejatinya memang pertandingan dua babak — babak pertama adalah permainan di lapangan untuk menggapai kemenangan, sedang babak kedua adalah kemampuan untuk bertahan di iklim bisnis yang kompetitif. Keberhasilan (atau kegagalan) di babak satu akan mempengaruhi kinerja di babak yang lain (success-makes-success effect).

Tak beda dengan perusahaan pada umumnya, sebuah klub sepakbola dibangun oleh:

aset berwujud (tangible assets),

aset keuangan (financial assets),

dan aset tak berwujud (intangible assets).


Klub sepakbola juga bersandar pada human assets (pemain dan manajer berkualitas),


market/relational assets (reputasi klub dalam menarik sponsor dan siaran televisi),


structural assets (bagaimana klub mengelola dan mempromosikan bisnisnya),


dan intelectual property (semisal registrasi merek dagang).



Tinjau sampel Manchester United. Menurut annual report dari London Stock Exchange tahun 2004, klub ini punya kapitalisasi pasar sebesar £721 juta, dengan intangible assets sebesar £156,8 juta dan intangible assets sebesar £564 juta. Tinjau sampel Southampton — dari liga yang sama dengan prestasi biasa-biasa saja. Klub ini hanya punya kapitalisasi pasar sebesar £11,9 juta, dengan tangible assets dan intangibles masing-masing £10,6 juta dan £1,4 juta. Rasio intangible assets terhadap kapitalisasi pasar Southampton cuma 11,39%, sementara United 78,25%.

Artinya, tangible assets merupakan faktor penting sukses tidaknya sebuah klub sepakbola. Dalam hal ini, pemain merupakan kunci pokok. Pemain bagus memperbesar probabilitas kemenangan, kemudian memikat basis penggemar dan sponsor yang kuat — inilah rationale pembelanjaan besar-besaran klub demi mendapatkan pemain berkualitas. Dan, menyebut nama-nama besar seperti Jose Mourinho atau Sir Alex Ferguson, juga menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar seorang manajer, melainkan strong intangibles yang memberi kontribusi besar bagi kesuksesan finansial klub.


Menurut Deloitte Football Monetary League Report, pendapatan United musim 2003/04 adalah £171,5 juta. Pendapatan keseluruhan dua puluh klub terbaik 2005 lebih dari £2 milyar. Tak cuma pendapatan tiket dan kompensasi atas kemenangan, klub mendapat pemasukan juga dari

penjualan memorabilia,

sponsor,

deal siaran televisi,

hingga catering dan kartu kredit.

United bahkan meng-outsource basis manufacturing mereka ke

Pakistan, China, Turki, dan Thailand untuk memangkas biaya.



Klub lain yang juga piawai memanfaatkan intangible assets adalah Real Madrid. Menurut sejarahnya, klub ini memiliki segalanya: uang, pemain dan pelatih berkualitas, dan segudang prestasi. Namun, sejak 2002 orietasi bisnis klub diubah. Vicente Del Bosque dan Fernando Hierro, yang memiliki kontribusi penting, ditendang. Alih-alih membina debutan, klub memilih membeli “produk jadi” yang memiliki payback period lebih cepat. Sebutlah Zinedine Zidane, Luis Figo, Ronaldo, Ruud van Nistelrooy, dan tentu saja, David Beckham.



Menurut FutureBrand, David Beckham yang dilego ke Madrid pada tahun 2003, memiliki “brand” senilai £60 juta. Pembelian ini, menurut Madrid yang saat itu ingin memperluas pasar ke Asia, adalah harga yang pantas. Apalagi, United waktu itu memang membutuhkan dana segar untuk memperbaiki balance sheet-nya. Beckham kemudian menjadi salah satu income stream Madrid yang ber-spirals upwards.

Terbukti, pada musim 2005/06, pendapatan Madrid menembus £190 juta sementara pendapatan United “hanya” £155 juta (Forbes).


Membuat berbagai commercial channels yang memberi financial returns maksimal kepada klub adalah hal penting. Klub-klub besar dengan intangibles tinggi terbukti memiliki surplus lebih besar dari klub rata-rata. Sponsorship misalnya. Klub-klub besar Eropa rata-rata memiliki 6 sponsor — kecuali Inter Milan yang membatasi diri dengan sponsor tunggal.





AC Milan punya 16 sponsor.

Liverpool menggandeng 6 sponsor.

Coca-cola, Adidas, Nike, Pepsi, Telefonica, Ladbrokes, masing-masing setidaknya menyokong dua klub.



Yang juga tak boleh dilupakan adalah brand. Dengan 53 juta penggemar di seluruh dunia, United misalnya, mati-matian melindungi merk dagangnya. United bekerja sama dengan badan hak cipta China dan pernah menutup enam pabrik pembuat produk United palsu.

Untuk melindungi pembajakan, United mengemas produknya dengan nomer digital yang berbeda dan sulit untuk direplikasi. Arsenal, di tahun 2001 juga pernah menuntut Matthew Reed yang menjual memorabilia berlabel Arsenal. Tahun 2002 masalah tersebut dibawa ke European Court of Justice dan trademark klub sepakbola menjadi kian diperhatikan.

Berkaca dari kompetisi di Eropa, kompetisi sepakbola di Indonesia sebenarnya sudah berjalan dengan relatif lancar. Namun dari segi bisnis dan aspek manajerial, masih banyak yang perlu diperhatikan.


Di Indonesia, mayoritas klub dimiliki Pemda dengan anggaran serba terbatas. Di satu sisi, tiap daerah ingin sepakbolanya maju; sementara di sisi lain ada pos-pos lain yang perlu diprioritaskan. Akibatnya, klub kemudian dikelola secara short-run untuk keuntungan jangka pendek — bukannya berorientasi jangka panjang yang berkesinambungan.

Akibatnya, turnover pemain dan pelatih tinggi dengan masa depan yang sulit dipastikan. Di lapangan, strategi dan komposisi permainan fakir form yang baku. Hampir setiap klub performanya labil. Tidak ada klub yang mendominasi dan juara diraih oleh klub yang selalu berbeda. Juara di musim ini bisa jadi terdegradasi di musim depan. Kompetisi liga pada akhirnya bukan menjadi tontonan yang menyenangkan — baik untuk penonton, media, sponsor, maupun pemilik klub.

Tanpa adanya upaya-upaya untuk berinvestasi pada tangible assets secara baik dan benar, bisnis sepakbola di Indonesia akan selalu jadi bisnis yang merugi dan menyedot anggaran. Padahal etnosentrisme basis fans yang kuat bisa menjadi pasar yang potensial. Dan kita mungkin punya produk lokal berkualitas seperti Boaz Sollosa atau Benny Dollo. Tapi tanpa ada manajemen yang baik, mereka hanya akan menjadi katak dalam tempurung.

Restrukturisasi kompetisi mutlak diperlukan. Penciptaan iklim bisnis persepakbolaan yang kondusif juga perlu dipikirkan. Agar sepakbola tak hanya menghibur penggemarnya — tetapi juga menjadi bisnis yang menguntungkan dan menggerakkan elemen masyarakat di dalamnya.


Sabtu, 28 Maret 2009

Membangun Ekonomi Desa Oleh Para Kaum Muda



Oleh: Ir. H.M. Lukman Edy, M.Si.

Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal (Meneg PDT)

Komitmen untuk melakukan pembangunan, tentunya bukan hanya milik pemerintah semata, tetapi juga menjadi tanggung jawab dari semua komponen bangsa. Masa lalu sentralisasi pembangunan era Orde Baru, harus mampu dijadikan motivasi untuk melakukan pembangunan secara menyeluruh, baik lintas sektoral, lintas wilayah maupun lintas bidang.

Salah satu komitmen yang dilakukan pemerintah sekarang adalah mendorong percepatan pembangunan khususnya di daerah-daerah tertinggal, termasuk desa tertinggal. Data Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT) menyebutkan, terdapat 38.232 (54,14%) kategori desa maju,yang terdiri dari 36.793 (52,03) kategori maju dan 1.493 (2,11%) kategori sangat maju. Sementara desa tertinggal berjumlah 32.379 (45,86%) yang terdiri dari 29.634 (41,97) kategori tertinggal dan 2.745 (3,89%) kategori sangat tertinggal. Ketimpangan inilah yang menjadi komitmen dari PDT untuk melakukan percepatan pembangunan desa tertinggal.

Semantara itu, fakta tentang desa tertingga menyebutkanbahwa, desa belum dapat dilalui mobil sebanyak 9.425 desa, desa belum ada sarana kesehatan sejumlah 20.435 desa, desa belum ada pasar permamen sebanyak 29.421 desa, besa belum ada listrik sebanyak 6.240 desa. Sementara rata-rata keluarga miskin di desar tertinggal adalah 46,44% dan IPN desa tertinggal sebesar 66,46.

Besarnya dispasitas antara desa maju dan desa tertinggal sebagaimana yang tersebut di atas, banyak disebabkan karena masing-masing sektor (departemen tekhnis) berjalan dengan sendiri-sendiri, pembangunan yang berjalan belum sepenuhnya partisipatoris, pembangunan desa yang belum terintegrasi serta kebijakan-kebijakan pembangunan desa belum optimal menekankan pro poor, pro job dan pro growth.
Serta kebijakan pembangunan yang belum mampu mengambarkan karakteristik dari desa tersebut. Artinya, keberagaman desa diasumsikan memiliki karakteristik yang sama. Kondisi yang demikian, menjadi amat wajar jika ketimpangan antara desa maju dan desa tertinggal menjadi semakin besar.

Pengalaman inilah yang menjadi dorongan bagi KPDT untuk menekankan percepatan pembangunan desa dengan pendekatan yang holistik (menyeluruh). Konsep yang ingin dikembangkan oleh KPDT adalah dengan menerapkan desa model, yakni konsep pembangunan desa dengan penetapan desa sebagai lokus dan fokus dari berbagai bentuk intervensi dari pemerintah yang dalam hal ini adalah KPDT.

Berdasarkan pengalaman di atas, kebijakan desa model dipisahkan berdasarkan beberapa karakteristik desa, yakni desa pulau-pulau kecil, desa pesisir, desa perbatasan dan desa pedalaman. Kodifikasi ini dijadikan sebagai media untuk mempermudah berbagai instrumen dan pendekatan pembangunan pada desa tersebut.

Dan, sesuai dengan tupoksi KPDT, yakni sebagai koordinasi dan fasilitasi, kebijakan desa model diharapkan mampu menjadi perekat bagi sistimatisasi pembangunan desa yang melibatkan semua sektor atau departemen tekhnis. Karena bagaimanapun kebutuhan bagi percepatan pembangunan desa mancakup semua bidang, yakni infrastruktur, ekonomi, pemerintahan, tekhnologi, sosial dan budaya, pendidikan, lingkungan, aksesibilitas/informasi, kesehatan dan berbagai layanan dasar lainnya.

Mengingat besarnya cakupan tersebut, serta kemampuan KPDT yang terbatas, maka peran departemen tekhnis menjadi amat vital. Disinilah pentingnya sinergi antara Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT) yang berkewajiban untuk melakukan perumusan kebijakan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan dibidang pembangunan daerah tertinggal, serta menyelenggarakan operasionalisasi kebijakan dibidang bantuan infrastruktur perdesaan, pengembangan ekonomi lokal dan pemberdayaan masyarakat.

Dengan demikian, sinergi dari semua stakeholder (baik pemerintah - departemen tekhnis dan KPDT -, pemerintah daerah, swasta dan masyarakat sendiri ) diharapkan mampu mendorong percepatan pembangunan bangsa, dimana desa menjadi komponen penting dari bangsa tersebut.

Dan, sasaran-sasaran strategis untuk berkurangnya desa tertinggal dan terisolir, berkurangnya indeks kemiskinan, meningkatnya pendapatan masyarakat yang ditandai dengan terciptanya lapangan kerja dan kesempatan kerja, berkembangnya perekonomian lokal masyarakat, kuatnya jaringan informasi dan ekonomi serta peningkatan kapasitas kelembagaan pemerintah dan masyarakat. Dan tidak yang tidak kalah penting adalah percepatan rehabilitasi desa pasca konflik dan bencana alam dapat tercapai dalam waktu dekat. Jelas sudah, bangsa membangun bangsa tidak bisa meninggalkan pembangunan desa.

Pembangunan pedesaan bukan sekedar menjadikan sektor pertanian yang tradisional menjadi pertanian desa modern.

Pembangunan pedesaan harus dilakukan dengan penguatan ekonomi, dengan menjadikan pertanian gurem (berteknologi rendah) ke pertanian maju. Ini berarti langkah-langkah pembangunan harus mampu menurunkan beban resiko petani dan pengusaha kecil dalam setiap usahanya. Masalah yang muncul kemudian, bahwa mereka dengan usaha kecilnya belum dapat memenuhi kebutuhan keluarganya sehinggga cendrung mencari aman. Bahkan mereka cendrung mempertahankan tingkat usahanya yang lebih rendah dari pada mengubahnya tetapi mengambil resiko yang lebih besar. Oleh karena itu, diperlukan pembinaan pemerintah terutama pemerintah daerah dengan kebijakan yang pro petani, nelayan dan pengusaha kecil karena pada hakekatnya berjuta-juta petani, nelayan dan pengusaha kecil itulah yang masih menunggu tetasan hasil pembangunan. Mereka adalah kelompok mayoritas rakyat indonesia yang perlu segera diberdayakan.

Oleh karena itu, keberpihakan kepada ekonomi rakyat sangat diperlukan dan semakin mendesak untuk dioperasionalkan sesuai dengan sasaran pokok pembangunan pedesaan. Dengan serangkaian upaya untuk menyusun aturan main ekonomi yang adil, yaitu menempatkan ekonomi rakyat pada posisi yang sama derajatnya dengan usaha menengah dan besar, bukan berarti untuk memenangkan yang lemah, tetapi agar persaingan berjalan sehat dan seimbang antara ekonomi konglomerat yang minoritas dan ekonomi rakyat yang mayoritas.

Pada tataran ekonomi makro, pemberdayaan ekonomi rakyat harus disinergikan dengan sistem atau kebijakan pemerintah yang bersifat ekonomi kerakyatan, yaitu kebijakan atau sistem ekonomi yang mengikutsertakan seluruh lapisan masyarakat dalam proses pembangunan. Selain itu, dibutuhkan prakondisi agar bisa sampai pada keadaan di mana partisipasi masyarakat dalam pembangunan harus berjalan secara optimal. Prakondisi dimaksud Pertama, ketiadaan kesenjangan kemampuan dan produktifats antar pelaku ekonomi di desa. Kedua, kesempatan atau akses yang proporsional terhadap sumber dana dan daya antara pelaku-pelaku ekonomi di desa. Ketiga, adanya kemitraan antara antara sesama pelaku ekonomi di pedesaan.

Upaya penguatan ekonomi desa dilakukan dengan berbagai program atau kebijakan dengan menggunakan sektoral untuk memacu pertumbuhan ekonomi pedesaan. Akan tetapi, banyak pihak melihat bahwa upaya tersebut belum mampu mencapai tujuan. Ketimpangan antar-golongan masyarakat dan antar willayah dirasakan makin melebar. Untuk mengatasi ketimpangan atau kesenjangan yang terjadi diperlukan adanya kebijakan ekonomi yang jelas-jelas memihak kepada kepentingan masyarakat desa, dalam hal ini terutama petani dengan meningkatkan nilai tukar petani, kebijakan permodalan, pemasaran, kebebasan petani dalam memilih produksinya, informasi pasar bagi petani, kelembagaan petani yang lebih memperjuangkan petani dan peningkatan nilai tawar dari petani dengan adanya migrasi desa ke kota.

Banyak sekali terlihat bahwa program pemberdayaan ekonomi rakyat yang diadakan justru tidak menghasilkan kemadirian petani tapi malah menimbulkan ketergantungan baru dari masyarakat untuk senantiasa mendapatkan bantuan “cuma-cuma” dari pemerintah. Pengalaman menunjukkan bahwa ada beberapa kegiatan yang dirancang dengan metode partisipatif, namun karena masyarakat melihat adanya beberapa kegiatan pembangunan lain yang diperoleh secara gratis dan bahkan untuk sekedar duduk pun dibayar. Maka kegiatan pembangunan yang bersifat partisipatif tersebut akhirnya gagal total.

Upaya lain yang harus dilakukan dalam peningkatan ekonomi masyarakat adalah dengan melahirkan pemuda mandiri, mengingat kedudukan pemuda sangat strategis ditambah dengan jumlahnya yang banyak. Sehingga dengan adanya pembinaan terhadap generasi muda dengan karakteristik kepemudaannya yang identik dengan kreatifitas, kepeloporan, idealisme, belum terkena polusi mental, dengan rata-rata pendidikannya yang relatif baik, sehingga Kaum muda tidak perlu menunggu untuk menjadi pengganti dimasa yang akan datang. Tetapi kaum muda perlu diberi kesempatan untuk menjadi subyek dalam kegiatan-kegiatan pembangunan. Dengan demikian, secara pribadi saya mengajak kepada semua elemen masyarakat untuk berjuang bersama-sama untuk memberdayakan kaum muda karena dengan melahirkan pemuda yang mandiri diharapkan dapat mengurangi pengangguran dan mengentaskan kemiskinan di pedesaan.

Aheruddin, S.E*
* Kandidat Magister Ilmu Ekonomi (M.E) Kajian Keuangan Daearah dari Universitas Brawijaya, Asal Air Suning KSB


Ubud - Obyek Wisata Bali

Ubud adalah sebuah desa kelurahan, membawahi 13 (tiga belas) banjar dinas yang terdiri dari 6 (enam) desa adat, termasuk kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar dengan jarak 20 km dari kota Denpasar, Ubud dapat dicapai dalam 30 menit atau 15 menit dari kota Gianyar.

Dengan ketinggian sekitar 300 meter di atas permukaan laut, Ubud memiliki udara lebih sejuk dari daerah dataran Bali asli selatan. Kelurahan Ubud berpenduduk sekitar 9.800 jiwa. Dengan lingkungan yang masih alami, daerah ini merupakan daerah sumber inspirasi bagi para seniman, termasuk seniman luar negeri, terutama seniman Eropa.


Ubud disamping memiliki alam yang indah, daerah ini juga merupakan sebuah desa budaya yang kaya dengan warisan sejarah para seniman besar, terutama para pelukis terkenal, misalnya I Gusti Nyoman Lempad (1862-1978), Anak Agung Gde Sobrat (1919-1992), I Gusti Made Deblog (1910-1986), kemudian disusul oleh yang lain seperti, I Gusti Ketut Kobot, Ida Bagus Made, Dewa Putu Bedil, Ida Bagus Rai dan lain sebagainya. Ketenaran para pelukis tersebut di atas ikut memberikan inspirasi terhadap para pelukis barat untuk berdomisili di desa Ubud.


Sekitar tahun 1920-an, dua pelukis Eropa yaitu Rudolf Bonnet dari negeri Belanda, dan Walter Spies dari Jerman menggoreskan sejarah baru perkembangan seni lukis di daerah Ubud. Kedua pelukis Eropa tersebut memperkenalkan teknik estetika Eropa terutama di bidang pencahayaan, bayangan, perspektif dan anatomi. Para pelukis lokal menyerap tehnik-tehnik baru yang sesuai dengan nilai dasar dan pikiran lokal dengan tetap mengambil tema tradisional sehingga mampu memberi identitas tersendiri dengan nama gaya Ubud atau Style Ubud.



Desa Ubud menjadi semakin terkenal sebagai daerah kelahiran para seniman lukis berkat adanya kerjasama antara Tjokordo Gde Agung Sukawati dengan Rudolf Bonnet untuk membentuk sebuah perkumpulan seniman dengan nama Pita Maha, yang juga ikut membidani lahirnya Pita Maha adalah Tjokordo Gde Raka Sukawati, I Gisti Nyoman Lempad pada tahun 1936. Pita Maha merupakan sebuah perkumpulan dan wadah untuk mendiskusikan masalah dan perkembangan seni lukis, serta untuk saling bertukar pikiran dan memperkenalkan hasil seni yang mereka miliki.



Dalam perkembangannya kemudian, atas prakarsa Ida Tjokordo Gde Agung Sukawati yang didukung oleh Rudolf Bonnet, pelukis kelahiran Nederland dan juga para pelukis setempat merencanakan mendirikan sebuah musium. Yayasan Ratna Wartha yang dibentuk sebelumnya diberikan tugas untuk melaksanakan pembangunan dan pengelolaan museum tersebut. Pada tahun 1945 mulailah pembangunan museum itu yang mana peletakan batu pertama dilakukan oleh Perdana Menteri Ali Sustroamidjoyo. Dalam kurun waktu dua tahun, tepatnya pada tahun 1956 museum tersebut dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mr.Moh.Yamin Sebagai daerah tujuan wisata, Ubud memiliki banyak objek yang menarik bagi wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara. Beberapa diantara objek tersebut adalah Puri Saren, yang terletak di Puri Ubud, pasar seni tradisional, Monkey Forest (Wenara Wana) dan museum.

Semoga Bermanfaat dan Tetap Semangat!

Minggu, 22 Maret 2009

Warung Internet


Seseorang sebaiknya tidak pernah menelantarkan keluarganya untuk mendahulukan bisnisnya.

"A man should never neglect his family for business."

~ Walt Disney~


Warnet

Mau Membuat Warung Internet Sendiri?


Oleh:


Kang Onno W. Purbo, M.Sc., Ph.D.


Teknologi Warung Internet harus di akui merupakan teknologi andalan dalam memberikan alternatif akses Internet yang murah bagi banyak orang. Secara umum ada dua (2) hal utama yang perlu diperhatikan dalam membangun Warung Internet, yaitu (1) sisi bisnis / manajemen WARNET dan (2) sisi teknologi WARNET. Saya sangat sarankan untuk ikut secara aktif monitoring mailing list yang berkaitan dengan per-warnet-an di Internet, seperti asosiasi-warnet@yahoogroups.com, asosiasi-warnet-broadband@yahoogroups.com, asosiasiwarnetbandung@yahoogroups.com, kowaba@yahoogroups.com dsb. Maupun berbagai mailing list yang berkaitan dengan teknologi informasi, seperti it-center@yahoogroups.com, linux-setup@linux.or.id, linux-admin@linux.or.id dsb.


Dari sisi bisnis / manajemen WARNET, isu yang ada biasanya berkisar masalah Marketing, Promosi, Usaha Memperoleh Pelanggan, Jangan pernah berkonsentrasi pada teknis karena pada akhirnya sense bisnis menjadi faktor penentu keberhasilan pendapatan anda.


Isu utama yang biasanya menjadi kunci adalah bisnis plan sebuah WARNET, sebagian besar orang sangat gamang karena belum / tidak mempunyai patokan yang pasti tentang bisnis plan WARNET. Sebetulnya saya sudah pernah membuatkan bisnis plan WARNET dalam bentuk file Excel yang dapat di ubah-ubah angka-nya di sesuaikan dengan kondisi di lapangan. File bisnis plan tersebut maupun berbagai informasi tentang WARNET bisa di ambil secara cuma-cuma di http://www.detik.com/net/kolom-warnet/ dan http://www.bogor.net/idkf/fisik/warung-internet/. Komponen dalam bisnis plan tidak banyak sebetulnya, yaitu (1) investasi yang biasanya sekitar Rp. 4 juta-an / PC, (2) biaya operasional yang biasanya akan banyak di habiskan dengan membayar Telkom & ISP selain membayar pegawai, listrik dsb. dan (3) tarif.


Bagi anda yang bisa menghayati usaha WARNET maka sebetulnya sense bisnis-nya sederhana sekali, yaitu:

· Letakan WARNET di tempat yang banyak orang, terutama orang muda.

· Semakin banyak komputer yang digunakan, semakin murah tarif, semakin cepat balik modal.

· Batas minimal komputer yang feasible untuk akses Web sekitar 5 komputer jika menggunakan sambungan telepon dial-up.


Khusus untuk WARNET di sekolah-sekolah / di universitas yang kecil, ada beberapa tip sederhana yang perlu diperhatikan juga, yaitu:

· Kalau bisa siswa membayar langsung dari SPP.

· Melibatkan siswa dalam pengelolaan WARNET supaya ada rasa memiliki diantara siswa selain membantu siswa belajar teknologi lebih dalam.

· Tutup akses Web & chatting, gunakan e-mail sebagai media komunikasi utama di Internet. Biasanya sekolah tidak sadar bahwa akses Web akan menghabiskan pulsa paling banyak & paling mahal untuk membayar Telkom.


Sebagai gambaran umum, untuk sekolah dengan siswa 700 orang, sebagai gambaran umum biaya yang perlu di keluarkan adalah sekitar Rp. 40 juta-an untuk fasilitas WARNET dengan 10 buah komputer. Kelihatannya mahal, padahal tidak sama sekali. Biaya akses e-mail per bulan yang perlu dikeluarkan untuk Telkom & ISP sekitar Rp. 500.000. Akses Web & Chatting sengaja di tutup jika kepala sekolah, guru & yayasan tidak yakin bahwa siswa mampu menjaga diri-nya melakukan surfing di Internet untuk tidak masuk ke situs yang tidak baik.


Modal akan kembali dalam waktu kurang dari satu tahun, jika setiap siswa bersedia untuk membayar tambahan SPP Rp. 3000 / bulan / siswa. Sebuah investasi yang kecil & kemungkinan kembali yang pasti. Di samping itu, biaya Rp. 3000 / siswa / bulan sebetulnya termasuk sedikit sekali, praktis cukup dapat dipenuhi dengan ceria oleh para siswa. Mohon diperhatikan bahwa untuk Rp. 3000 / bulan / siswa ini para siswa hanya dapat menikmati fasilitas e-mail di Interet. Sedangkan Web harus membayar tambahan sekitar Rp. 3500-5000 / jam seperti WARNET biasa, atau jika operator WARNET cukup kreatif, dapat juga sebagian Web di akses melalui CD-ROM lokal. Selanjutnya jika sudah lebih dari satu tahun & sudah balik modal, keuntungan yang diperoleh bisa terus dikembangkan untuk membeli komputer tambahan untuk fasilitas akses Internet agar lebih baik & mudah bagi para siswa.


Dari sisi teknologi Warung Internet, ada beberapa isu besar yang perlu diperhatikan. Secara umum topologi sederhana sebuah WARNET konvensional tampak pada gambar. WARNET terdiri dari sebuah Local Area Network (LAN) yang tersambung ke Internet melalui sebuah gateway yang kadang-kadang juga berfungsi sebagai server. Pada tingkat yang lebih kompleks, konsep ini dapat dikembangkan dengan mudah untuk menyambungkan jaringan di kompleks perumahan (untuk membuat RT/RW-net), di kompleks pertokoan, kompleks perkantoran, di sekolah-sekolah, di kampus-kampus yang pada akhirnya memungkinkan orang Indonesia untuk akses ke Internet dengan biaya yang sangat murah.


Teknik Local Area Network (LAN) relatif cukup mapan, biasanya WARNET menggunakan topologi Bus dengan ethernet 100BaseT yang murah di pasaran pada kecepatan 100Mbps di LAN. Ethernet Card yang baik bisa diperoleh sekitar Rp. 150.000 / card sebaiknya jangan membeli yang murah sekali (sekitar Rp. 70.000-an) karena biasanya jelek. Pada Kampus Network, Kompleks Perumahan, Kompleks Perkantoran tentunya teknik yang digunakan semakin kompleks.


Sambungan jarak jauh dari WARNET ke ISP maupun ke Internet internasional mempunyai variasi yang cukup banyak. Teknik yang paling murah adalah menggunakan dial-up melalui kabel telepon milik Telkom ke ISP lokal. Teknik sederhana ini persis sama dengan pola yang kita pakai untuk akses internet di rumah-rumah. Kecepatan maksimum di Indonesia umumnya sekitar 33.6Kbps karena jaringan Telkom yang ada kualitasnya tidak baik. Biaya akses per bulan yang dikeluarkan bagi WARNET yang cukup aktif menggunakan saluran dial-up ini adalah sekitar Rp. 2.5 juta / bulan dengan kecepatan akses 33.6Kbps yang akhirnya membatasi jumlah komputer yang bisa akses beramai-ramai sekitar 7-10 komputer saja.


Bagi sebagian WARNET, kompleks perkantoran, kompleks perumahan yang lebih maju umumnya mereka tidak lagi menggunakan Telkom karena selain kualitas jaringannnya kurang baik, kecepatan akses-nya juga lambat yang semua mengurangi profit WARNET. Teman-teman yang lebih maju ini umumnya menggunakan peralatan microwave buatan sendiri di frekuensi 2.4GHz, beberapa bereksperimen juga di frekuensi 5.8GHz yang terakhir ada beberapa rekan yang juga mencoba menggunakan gelombang cahaya infra merah di antara beberapa gedung di Jakarta. Kecepatan pengiriman dapat menggunakan peralatan microwave / cahaya infra merah ini cukup menakjubkan sekitar 2-11Mbps yang jauh lebih tinggi dibandingkan Telkom. Jika di paksakan menggunakan gelombang infra merah dapat mencapai kecepatan 155Mbps.


Rekan-rekan WARNET di Bandung, saat ini cukup nekad karena membangun sendiri stasiun bumi untuk akses ke Internet secara langsung pada kecepatan 1Mbps yang kemudian di distribusikan menggunakan microwave di 2.4GHz pada kecepatan 11Mbps. Seluruh infrastruktur menjadi beban biaya sekitar beberapa puluh WARNET sekitar Rp. 4-5.5 juta / bulan / WARNET. Cukup murah mengingat kecepatan yang bisa di capai adalah 1Mbps ke Internet dan 11Mbps antar WARNET.


Pada kesempatan lain akan saya coba jelaskan lagi lebih detail teknologi Warung Internet tersebut. Saya sarankan kalau bisa aktif di berbagai mailing list WARNET maupun mengambil informasi tentang WARNET di http://www.bogor.net/idkf yang gratisan.


Hatur Nuhun Kangge Kang Onno W. Purbo.


"Tanpa cintanya, aku tidak dapat berbuat apa-apa, dengan cintanya, tidak ada yang tidak dapat aku lakukan."

Without His love I can do nothing, with His love there is nothing I cannot do.


Catatan Si Penjaga Warnet Cadangan
(Saung-Net Dot Com)

Arip Nurahman



Rabu, 18 Maret 2009

Ekonomi Desa


Pasar Tradisional Jantung Ekonomi Desa

Dikatakannya, kebijaksanaan pusat membangun pasar inpres di masa lalu merupakan solusi merangsang dinamika ekonomi rakyat, mengatasi rendahnya geliat ekonomi masyarakat. Mengatasi tantangan saat itu, pembangunan pasar inpres cukup relevan, karena selain masih menimnya akses transportasi ekonomi masyarakat menuju pusat transaksi pasar di perkotaan, juga dimaksudkan untuk memenuhi salah satu kriteria agar tidak tergolong Desa tertinggal. Namun dengan kemajuan pembangunan infrastruktur jalan saat ini, membuat daerah yang semula terisolir menjadi terbuka sehingga mudah menjangkau pemasaran produksi daerah serta hasil bumi lokal ke sentra pasar induk. "Maraknya angkutan Pedesaan, Ojek maupun kepemilikan alat transportasi baik roda dua maupun roda empat, memberi nilai tambah lebih tinggi terhadap harga produk yang dipasarkan masyarakat di pasar induk," katanya.

Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar-menawar, bangunan biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. Kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan-bahan makanan berupa ikan, buah, sayur-sayuran, telur, daging, kain, pakaian barang elektronik, jasa dan lain-lain. Selain itu, ada pula yang menjual kue-kue dan barang-barang lainnya. Pasar seperti ini masih banyak ditemukan di Indonesia, dan umumnya terletak dekat kawasan perumahan agar memudahkan pembeli untuk mencapai pasar. Beberapa pasar tradisional yang "legendaris" antara lain adalah pasar Beringharjo di Jogja, pasar Klewer di Solo, pasar Johar di Semarang. Pasar tradisional di seluruh Indonesia terus mencoba bertahan menghadapi serangan dari pasar modern.


Komoditi Unggulan

Selain sektor industri, perdagangan dan koperasi yang menjadi aspek investasi, tabel yang ada dibawah juga menjadi komoditas yang dapat di jadikan investasi Kota Banjar.

Tabel 1
Tabel Komoditi Unggulan Kota Banjar

NO
KOMODITI
JUMLAH UNIT USAHA
KAPASITAS /TAHUN
LOKASI
1.

Bordir/Konveksi :

- Kaos, Koko, Celana Pendek

- Busana Muslim, Kebaya

5 Kelompok
44,3 potong
Banjar, Pataruman
2.
Tikar Mendong
2 unit usaha, 30 plasma
960 kodi
Langensari
3.
Meubel
43 unit usaha
372.034 buah
Banjar, Pataruman, Purwaharja dan Langensari
4.
Anyaman Bambu
2 sentra, 65 unit usaha
780 pasang
Langensari, Neglasari
5.

Industri Kerajinan Kayu/Bambu :

1 unit usaha
1.080.000 buah
Banjar, Neglasari
6.

Kerajinan :

- Miniatur Alat Musik

- Sangkar Burung

- Ukiran Tunggul Kayu

4 unit usaha

1 unit usaha

2 unit usaha

1.200 set

96 buah

Pataruman, Neglasari dan Purwaharja
7.

Industri Makanan Olahan :

- Sale Pisang

- Kripik Pisang, Singkong

- Ranginang

- Makanan Ringan

20 unit usaha

15 unit usaha

25 unit usaha

6 unit usaha

440 ton

53,2 ton

80 ton

72 bungkus

Pataruman, Langen

Pataruman

Purwaharja

Banjar

8.
Air Minum Dalam Kemasan
1 unit usaha
35.800 galon
Banjar
9.
Gula Kelapa

Gula

602 unit usaha
1.200 ton
Langensari
10.
Industri Logam Alat Rumah
1 unit usaha
6.300 kodi
Langensari
11.
Bata Merah
400 unit usaha
17.863 buah
Pananjung, Karangpucung, Langensari
12.
Kambing PE
1.350 ekor
200 ltr/hari
Langensari
13.
Beras Organik

Beras

998,7 ha
20 ton
Koptan Banjar
14.
Kentang Hitam
356,7 ha
68 ton
Langensari


Aspek Investasi

Aspek investasi merupakan faktor penting dalam mengembangkan perekonomian daerah. Adapun perkembangan investasi Kota Banjar dari tahun 2004 – 2005 dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 1

Perkembangan Investasi Kota Banjar

NO
TINGKAT INDUSTRI
JUMLAH
INVESTASI
UNIT USAHA
TENAGA KERJA

1

Besar

0

0

0

2

Menengah

3

1.561

16.920.000.000

3

Kecil Formal

301

1.868

2.619.688.000

4

Kecil Non Formal

1.215

6.909

1.606.440.000

JUMLAH

1.519

10.338

21.146.108.000

Sumber : Dinas Peridagkop dan PM , Tahun 2004

Tabel 2

Perkembangan Potensi Sektor Koperasi Tahun 2004 – 2005 dan Target Tahun 2006

POTENSI BIDANG KOPERASI

TAHUN
UNIT USAHA
INVESTASI (Rp Milyar)
TENAGA KERJA (Orang)

2004

97

10.530.000.000

130

2005

106

13.914.094.229

136

Naik Turun (%)

1,05

1,04

1,28

2006

122

11.389.248.000

142

Sumber : Dinas Peridagkop dan PM, Tahun 2005

Tabel 3

Perkembangan Potensi Sektor Perindustrian Tahun 2004 – 2005 dan Target Tahun 2006

POTENSI BIDANG INDUSTRI
TAHUN
FORMAL
NON FORMAL
UNIT USAHA
INVESTASI (JT)
TENAGA KERJA (ORANG)
UNIT USAHA
INVESTASI (JT)
TENAGA KERJA (ORANG)

2004

302

19.539,668

3429

1.215

1.606,44

3.480

2005

308

19.600,068

3489

1.239

1.638,03

3.553

Naik (%)

1,02

1,00

1,02

1,02

1,02

1,02

2006

315

19.667,836.8

3.557

1.267

1.673,473.98

3.635

Sumber : Dinas Peridagkop dan PM, Tahun 2005

Tabel 4

Perkembangan Potensi Sektor Perdagangan Tahun 2004 – 2005 dan Target Tahun 2006

POTENSI BIDANG PERDAGANGAN
TAHUN
UNIT USAHA
INVESTASI (Milyar)
TENAGA KERJA (Orang)

2004

1.475

90.000.000.000

3.939

2005

1.750

116.656.968.678

5.201

Naik Turun (%)

1,12

1,30

1,32

2006

2.100

144.324.315.141

6.800

Sumber : Dinas Peridagkop dan PM